Jumat, 10 Desember 2021

BERBAGI PRAKTIK BAIK LITERASI DIGITAL

 

RESUME 17 GMLD: MUJIATUN, S.Pd.


 

Dulu, waktu kecil saya suka makan tebu tetapi sudah lama sekali tidak pernah memakannya. Mungkin sudah lebih dari 40 tahun saya tidak pernah menikmati batang manis itu lagi. Meskipun begitu, saya masih sangat ingat bagaimana rasanya. Pada bagian pangkal tebu berasa sangat manis tetapi makin ke ujung manisnya pun semakin kurang berasa. Artinya, semakin ke ujung semakin hambar.

Berbeda dengan kegiatan pelatihan Guru Motivator Literasi Digital (GMLD) ini. Saya rasakan tidak sama dengan memakan batang tebu. Dalam pelatihan menulis ini meskipun berada di penghujung pertemuan tetapi saya masih merasa bersemangat. Bahkan masih mau ditambah pertemuan dan ditambah materi lagi. Rasanya, tak hendak jauh-jauh dari para narasumber yang hebat dan piawai di dunia literasi.

Masih ingin menggali dan mengikuti para narasumber berbagi ilmu, pengetahuan, dan pengalaman yang dapat memompa energi dan menyulut semangat saya dalam berliterasi. Semoga ada kegiatan serupa ini di kemudian hari. Banyak sekali manfaat yang saya dapatkan dari kegiatan pelatihan GMLD ini. Bukan hanya ilmu pengethuan tetapi motivasi dan inspirasi yang luar biasa dari para narasumber pun saya peroleh. Selain itu, saya pun memperoleh banyak sahabat, guru-guru hebat dari seluruh daerah di Indonesia.

Semua itu bagi saya sangatlah mahal harganya. Tentu saja tekkan ternilai dengan uang atau yang lainnya. Oleh sebab itu, saya merasa sangat bersyukur menjadi bagian dari Guru Motivator Literasi Digital tahun 2021 ini.

Pada pertemuan ke-17 hari Rabu, 8 Desember 2021 Ibu Maria Sumakul Magdalena hadir sebagai narasumber. Beliau hadir dengan materi berjudul “BERBAGI PRAKTIK BAIK LITERASI DIGITAL”. Lagi-lagi tema materi yang disampaikan oleh narasumber dalam kegiatan ini sangat menarik untuk diikuti hingga usai.

Melalui perkenalan di awal materi, saya ketahui bahwa Ibu Maria adalah seorang guru yang aktif berbagi praktik baik di dunia digital. Yakni dengan mengajar coding, menulis buku, dan masih banyak lagi. Beliau hadir didampingi oleh Ms. Phia, moderator cantik yang selalu tampil memesona hati peserta.

Ada beberapa poin penting yang disampaikan oleh Ibu Maria berdasarkan paparan materinya. Berikut poin-poin penting tersebut yang harus kita cermati.

1.      Pengertian Literasi Digital.

 Literasi digital merupakan pengetahuan dan kecakapan dalam memanfaatkan media digital, seperti alat-alat komunikasi, jaringan internet, dan sebagainya. 



2.      Manfaat Literasi Digital 

     a.       Menambah wawasan individu, kegiatan mencari dan memahami informasi.

  1. Meningkatkan kemampuan individu untuk lebih kritis dalam berpikir serta memahami informasi.
  2. Menambah penguasaan 'kosa kata' individu dari berbagai informasi yang dibaca.
  3. Meningkatkan kemampuan verbal individu.
  4. Literasi digital dapat meningkatkan daya fokus serta konsentrasi individu.
  5. Menambah kemampuan individu dalam membaca, merangkai kalimat serta menulis informasi.


 3.      Relevansi Literasi Digital dengan Pembelajaran

Literasi digital sangat berhubungan erat dengan dunia pendidikan. Karena litersi digital mampu mengembangkan dunia pendidikan. Literasi digital yang baik akan membuka akses terhadap informasi yang lebih luas. Yaitu dengan cara kualitas sektor pendidikan dapat ditingkatkan.

Pemanfaatan teknologi mampu mengakselerasi transformasi pendidikan dan mendorong lompatan kemajuan khususnya di masa pandemi Covid 19.  Teknologi yang tepat sasaran  dan kecakapan digital menjadi  syarat yang harus dipenuhi dalam penggunaan teknologi saat ini.

Selain kecakapan digital, kita juga diharapkan memiliki budaya digital, etika digital dan keamanan digital. Ini merupakan pondasi yang harus kita ajarkan kepada anak-anak didik pada saat ini. 


4.      Alasan Literasi Digital Harus Diajarkan dalam Dunia Pendidikan

Literasi digital harus diajarkan dalam dunia pendidikan karena anak-anak didik sangat dekat dengan media sosial.  Anak-anak pun sangat rentan terhadap pengaruh negatif media sosial. Selain itu, banyak hal-hal negatif dan bahaya yang mengintai peserta didik kita. Dengan pemahaman literasi digital maka diharapkan dapat mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan dari dunia digital.



Contoh Literasi Digital


 5.      Tujuan Pembelajaran Literasi Digital di Sekolah  

      a.  Meningkatkan kapasitas guru untuk menyajikan pembelajara yang menarik bagi peserta                didik melalui pemanfaatan media digital.

  1. Mengintegrasikan kompetensi dasar dalam pembelajaran untuk meningkatkan kecakapan digital.
  2. Menumbuhkan karakter baik melalui pemanfaatan media digital dengan mengutamakan etika dan norma sosial.

    


                    

6.      Manfaat Literasi Digital bagi Peserta Didik   

     a.  Meningkatkan kemampuan peserta didik untuk lebih kritis dalam berpikir serta                       memahami    informasi.

  1. Menambah penguasaan 'kosa kata'peserta didik, dari berbagai informasi yang dibaca
  2. Meningkatkan kemampuan verbal peserta didik.
  3. Literasi digital dapat meningkatkan daya fokus serta konsentrasi peserta didik.


Di akhir pemaparan materinya, Ibu Maria menegaskan bahwa kiita sebagai guru harus bisa mengeksplor diri untuk terus belajar tentang internet dan penggunaan media digital. Agar kita tidak tertinggal oleh peserta didik yang terus mencari tahu tetang perkembangan dunia digital.  Faktanya, sampai saat ini masih banyak guru-guru yang belum melek digital. Bahkan, masih ada yang belum tahu tentang media-media yang ada di dunia digital.

Demikian resume materi  yang disampaikan oleh Ibu Maria pada pertemuan ke-17 GMLD ini. Semoga resume ini bermanfaat buat kita. Dengan harapan, kita sebagai seorang guru semakin cakap dan bijak dalam memanfaatkan media digital untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Sehingga anak-anak didik pun semakin cakap dan cerdas dalam berliterasi di dunia digital.

Salam Literasi dari Way Kanan, Lampung

Selasa, 07 Desember 2021

BIJAK DALAM BERMEDIA SOSIAL

 RESUME 16 GMLD: MUJIATUN, S.Pd.



 

Bismillah, menuntut ilmu sepanjang hayat dan menuntut ilmu itu merupakan suatu kewajiban bagi setiap insan. Oleh sebab itu, saya sampai hari ini Senin, 6 Desember 2021 masih tetap mengikuti kegiatan Pelatihan Guru Motivator Literasi Digital (GMLD) dengan semangat. Berharap memeroleh keberkahan ilmu dari Allah untuk bekal berbagi manfaat kepada orang lain. Sehingga saya dapat berbagi ilmu, motivasi, dan inspirasi melalui kegiatan literasi ini.

Meskipun kegiatan ini sudah berada di penghujung pertemuan tetapi saya tetap mengikutinya dengan fokus hingga usai. Memang, sebagai persyaratan lulus pada kegiatan ini salah satunya adalah cukup mengikuti hingga pertemuan ke-16 saja. Namun, bukan itu tujuan utama saya mengikuti kegiatan ini. Lebih dari itu, yakni ingin memeroleh manfaat dan keberkahan ilmu dari kegiatan ini.

Pertemuan ke-16 ini dihadiri oleh Bapak Dail Ma’ruf sebagai narasumber.  Beliau hadir dengan mengusung materi berjudul “Bijak dalam Bermedia Sosial”. Tema ini sungguh sangat menarik bagi saya. Sehingga membuat saya semakin bersemangat dalam mengikuti paparan materinya. Apalagi materi ini disampaikan oleh narasumber hebat yang sangat mumpuni di dunia literasi digital.

Sebelum memaparkan materi, Pak Dail memperkenalkan diri terlebih dahulu melalui CV yang dibagikan kepada para peserta di grup pelatihan. Melalui CV beliaulah, saya mengenal dan mengetahui lebih lanjut tentang narasumber kali ini. Tak diragukan lagi, Pak Dail memang narasumber yang luar biasa. Selain prestasinya di dunia pendidikan sudah banyak, karyanya pun di dunia literasi tak terhitung lagi.

Namun demikian, Pak Dail tetap ramah dan sangat hamble kepada siapa pun. Termasuk kepada saya dan seluruh peserta pelatihan di GMLD ini. Kepribadian menawan beliau inilah yang membuat para peserta merasa nyaman dan sangat respek kepadanya.

Pak Dail menjelaskan bahwa sebagian besar orang saat ini ketergantungan dengan media soial. Media sosial sudah sangat menguasai masyarakat. Baik anak kecil, remaja, bahkan orang dewasa. Mereka sudah menjadikan media sosial sebagai kebutuhan penting dalam kehidupannya sehari-hari. Bahkan, ada yang begitu bingung jika sehari saja tidak mengakses media sosialnya. Mereka merasa jauh tertinggal dan tidak tahu perkembangan dunia sekitarnya.

Oleh sebab itu, kita sebagai seorang guru harus bijak menyikapi maraknya media sosial ini. Media sosial merupakan media yang digunakan masyarakat untuk berkomunikasi kepada pihak lain, baik perseorangan ataupun publik. Dahulu kita tidak mengenal media sosial. Alat komunilasi hanyalah televisi dan radio. Kemudian mulai ada HP, aplikasi yang digunakan hanya terbatas SMS dan telefon.

Kemudian SMS berkembang menjadi BBM (BlackBerry Messenger) yang pada saat itu sangat digandrungi oleh masyarakat. Seiring berjalannya waktu, BBM tergantikan oleh munculnya android. Walau awalnya aplikasi BBM tetap ada di android, tetapi akhirnya tergantikan dengan adanya WhatsApp(WA).

Pada saat ini, WhatsApplah yang menjadi primadona di dunia digital. Pada aplikasi WA hampir semua menu tersedia. Kita bisa chat, telefon, pesan suara, kirim foto, video call, bahkan berbagi lokasi biisa dilakukan.  Kemudian sekarang muncul media serupa yakni  telegram, Instagram, Twitter, dll dengan kelebihan dan kekurangannya masing-amsing.

Berdasarkan pembahasan Pak Dail, ada bebrapa hal penting yang harus kita cermati.

1.     Pengertian Kata Bijak.  Kata bijak dapat diartikan selalu menggunakan akal budinya. Bijak juga bermakna pandai bercakap-cakap, dan petah lidah. Menurut ayah Pak Dail, H. M. Nur, bijak itu sama dengan adil. Maknanya menempatkan sesuatu pada tempatnya. Orang bijak artinya orang yang pandai menempatkan sesuatu sesuai dengan peruntukannya. Jadi, bijak dalam bermedia sosial maksudnya menempatkan media sosial sesuai dengan fungsinya. 

 2.  Pengertian Media Sosial. Media sosial adalah sebuah media online yang digunakan satu      sama lain untuk berkomukasi. Para penggunanya dapat dengan mudah berpartisipasi, berinteraksi, dan berbagi. Selain itu, pengguna pundapat  menciptakan isi blog, jejaring sosial, wiki, forum, dan dunia virtual tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu.

 


Media Sosial Saat Ini

 

WhatsApp (WA) tetap menjadi pilhan utama masyarakat saat ini meskipun banyak media sosial yang lainnya. Bahkan pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan siswa secara daring banyak memanfaatkan WhatsApp sebagai medianya.

3.   Manfaat Media Soial. Media sosial bagi kita sangat bermanfaat untuk menjalin  silaturahmi, menambah relasi, bisnis, dan sebagai wadah untuk menunjukkan karya. Dengan silaturahmi kita info, dapat ilmu atau bahkan peluang bisnis.

Media sosial itu bagaikan sebilah pisau. Bisa digunakan untuk hal-hal baik, bisa juga disalahgunakan untuk kejahatan. Semua bergantung kepada penggunanya. Jika  dimanfaatkan untuk hal-hal positif, maka berjuta kebaikan dapat kita raih. Contohnya di Grup GMLD ini, Wa bisa digunakan untuk memeroleh ilmu, dapat relasi baru, dan dapat skill yang langka ( menulis dan menerbitkan buku). Kita semakin konsisten dan terampil dalam menulis. Semakin banyak hal-hal positif yang kita tulis. Sehingga semakin banyak  pula sesuatu yang bermanfaat dapat kita bagikan kepada orang lain melalui tulisan.

Oleh sebab itulah, Pak Dail menegaskan di akhir paparan materinya bahwa kita harus bijak dalam bermedia sosial. Artinya, kita harus bijak dan cerdas di dalam memanfaatkan media sosial hanya untuk hal-hal yang positif saja. Yakni, hanya untuk mengunggah dan membagikan informasi atau konten yang bermanfaat. Sehingga kita tidak akan menjadi pelaku atau pun korban dari oknum yang menyalahgunakan media sosial.

Demikian resume materi pada pertemuan ke-16 yang disampaikan oleh Pak Dail Ma’ruf dengan lugas dan jelas. Sehingga saya dan para peserta pelatihan dapat memahami dengan mudah materi yang telah disampaikan oleh beliau. Semoga kita semua bisa cerdas dan bijak dalam bermedia sosial. Sehingga kita bisa menjadi contoh bagi anak-anak dan siswa untuk selalu bijak dalam bermedia sosial. Aamiin.

 

Salam Literasi dari Way Kanan, Lampung

Minggu, 05 Desember 2021

LITERASI DIGITAL MENCIPTAKAN KEMAMPUAN DAN KESEMPATAN

 


RESUME 15 GMLD: MUJIATUN, S.Pd.

 


 

Tak dapat dipungkiri ataupun dielakkan bahwa kehidupan kita saat ini berada di dunia nyata dan digital. Bahkan, sejak bangun tidur hingga tidur lagi kita selalu mengakses dunia digital. Jika diprosentasekan, justru kita lebih banyak berada di dunia digital. Sebab, bukan hanya untuk berinteraksi ataupun memeroleh informasi saja kita berada di dunia digital. Tetapi sekolah dan bekerja pun saat ini melalui dunia digital, yakni dengan memanfaatkan berbagai media digital yang ada.

Dengan demikian tentu berpulang kepada kita sebagai pelaku dan pengguna media digital digital. Apakah dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif ataupun sebaliknya. Semua terserah kepada kita untuk menyikapinya.

Banyak orang yang terjerumus dalam memanfaatkan dunia digital untuk menyebar berita-berita negatif yang menyesatkan bahkan mencelakakan orang lain. Namun, banyak juga orang yang sukses bisnisnya lantaran usahanya di dunia digital.

Sehubungan dengan kondisi dunia digital saat ini, Bapak Raimundus Brian Prasetyawan hadir sebagai narasumber dalam pelatihan Guru Motivator Literasi Digital pertemuan ke-15 ini.

Beliau hadir dengan materi berjudul “Literasi Digital Menciptakan Kemampuan dan Kesempatan” pada hari Jumat, 3 Desember 2021 melalui zoom meeting. Meskipun hanya melalui ruang zoom, saya tetap semangat mengikuti paparan materi hingga usai. Dengan risiko keluar-masuk ruang zoom karena mental akibat jaringan yang timbul tenggelam.

Bahagia sekali rasanya pada pertemuan kali ini bisa tatap muka langsung dengan sosok yang mengagumkan meski melalui layar laptop saja.  Saya mengenal beliau sejak dua tahun lalu, di Grup Belajar Menulis PGRI asuhan Omjay gelombang 17. Saat itu, beliau pun hadir sebagai narasumber yang memukau.

Pak Brian merupakan sosok milenial, yakni guru muda yang luar biasa menurut saya. Jejak langkahnya di dunia literasi sungguh mengagumkan. Meski usia masih sangat muda tetapi karya dan prestasinya tak terhitung banyaknya. Hal ini merupakan salah satu pemicu semangat saya untuk tetap belajar dan berusaha berkarya. Karena, di usia saya yang sudah senja ini belum memiliki karya yang berarti di dunia literas. Terlebih literasi di dunia digital.

Oleh sebab itu, pada kesempatan kali ini Pak Brian memaparkan beberapa hal sehubungan dengan dunia digital. Yakni, tentang literasi digital dan cara memanfaatkannya untuk menciptakan kemampuan dan kesempatan. Baik untuk berkarya, berprestasi, dan berbisnis. Sebagaimana yang telah dilakukan dan dicontohkan sendiri oleh beliau selama ini.

Beliau menegaskan bahwa kita sebaiknya menjadi produsen atau subjek dalam dunia digital. Bukan sebaliknya, hanya menjadi konsumen atau objek. Sehingga hanya menjadi  penikmat konten-konten yang kurang bermanfaat. Bahkan tak jarang menjadi korban dari oknum pelaku dunia digital yang tidak bertanggung jawab.

Oleh sebab itu, Pak Brian mengajak kita memanfaatkan media digital untuk menciptakan konten-konten yang positif di dunia digital. Yakni, konten-konten yang bermanfaat bagi orang banyak. Sehingga konten-konten tersebut dapat memotivasi dan menginspirasi orang lain yang mengonsumsi konten karya kita tersebut.

Untuk menciptakan karya-karya yang bermanfaat bagi orang lain kita dapat menggunakan berbagai media digital yang ada. Pak  Brian memberikan  beberapa contoh seperti program komputer, game, aplikasi HP, gambar digital, video,  media sosial,  website,  audio, E-book, dan lain-lain sesuai dengan minat dan kemampuan kita.

Berbagai media digital  tersebut dapat  kita manfaatkan  untuk menggali potensi, sehingga terbentuk  skill yang permanen. Berbagai cara dapat  kita lakukan untuk membentuk dan mengasah kemampuan di dunia digital. Salah satunya yaitu dengan melakukan ATM (Amati, Tiru, Modifikasi).  

Berikut bebrapa hal penting dari pemaparan materi beliau.

     1.   Pengertian Literasi Digital

Literasi digital menurut penjelasan Pak Brian berdasarkan Kompas.com adalah:

     a.   Literasi digital adalah pengetahuan serta kecakapan pengguna dalam memanfaatkan media digital seperti alat komunikasi jaringan internet dan lain-lain. (Dikutip dari artikel “Peran Literasi Digital di Masa Pandemi” 2021 karya Devri  Suherdi).

     b.   Kecakapan pengguna dalam literasi digital mencakup kemampuan untuk menemukan, mengerjakan,  mengevaluasi, menggunakan, membuat, serta memanfaatkannya dengan bijak, cerdas, cermat,  serta tepat sesuai kegunaannya.

2.      Kemampuan dan Kesempatan yang Didapatkan di Dunia Digital

      a.    Memeroleh wawasan dan ilmu baru

Banyak ilmu dan pengetahuan yang dapat digali dan diperoleh melalui dunia digital. Dengan menuliskan pencarian mesin penelusuran pada Google maka semua akan bermunculan. Informasi apa saja yang dikehendaki dapat dengan mudah didapatkan. 

b.      Mengembangkan diri

Pak Brian memberikan penekanan dalam hal pengembangan diri berupa    mencoba pada hal-hal yang baru. Beliau mencontohkan guru yang belum pernah menulis, kemudian bergabung dengan pelatihan menulis Omjay. Sehingga terampil dan konsiten menulis. Bahkan beliau dapat menerbitkan buku solo hingga berkali-kali.


 

         c.       Meningkatkan skill 

        Masing-masing kita memiliki kemampuan dasar yang dapat ditingkatkan melalui dunia             digital. Contohnya, seseorang yang  enggan menulis karena terkendala oleh media.                    Akhirnya, kembali konsisten menulis lantaran media digital yang dapat mempermudahnya         untuk berkarya.

      d.   Tambahan penghasilan (Bisnis Online) 

Dengan mengasah kemampuan melalui dunia digital, kita pun akan memeroleh manfaat finansial. Sebagai contoh, beberapa tulisan yang saya tulis di blog, lalu dibukukan. Awalnya, saya hanya berniat membukukan untuk dokumen pribadi. Akan tetapi, banyak rekan, kawan, dan sahabat yang tertarik untuk membelinya.  Alhamdulillah, ini merupakan bonus bagi saya dari menyalurkan hobi dan mengasah kemampuan diri di dunia digital.

    e.    Menjalin relasi

Dengan menjadi anggota di sebuah grup komunitas, artinya kita sudah menjalin relasi dengan anggota yang lain. Selain itu, kita pun telah menjalin silaturahmi, kawan yang belum pernah kita kenal menjadi kenal. Selanjutnya, bisa saling berbagi ilmu, pengetahuan, motivasi, dan inspirasi.

Pak Brian dalam hal ini bukan memberikan tips atau paparan materi semata. Melainkan benar-benar memberikan contoh dan keteladanan langsung pada dirinya sendiri. Beliau  merupakan seorang Guru Blogger sejati. Menggemari blog sejak masih duduk di bangku SMA dan memelajarinya sendiri secara otodidak. Yakni, mendalami ilmu pengetahuan tentang  blog dan mengembangkannya sendiri melalui internet .

Sudah banyak blog yang dimiliki oleh Pak Brian. Dan melalui blog ini pula beliau telah menerbitkan beberapa buku solo. Ada tiga buku solo karya Pak Brian yang sudah saya miliki. Yaitu “BLOG UNTUK GURU ERA 4.0”, “MENERJANG TANTANGAN MENULIS SETIAP HARI”, dan “AKSI LITERASI GURU MASA KINI”. Melalui buku-buku karya beliaulah saya semakin semangat untuk terus menulis dan memberanikan diri menerbitkan buku.

Alhasil,  6 buku solo karya saya berhasil diterbitkan pada tahun ini. Empat buku diterbitkan secara gratis oleh Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD), Jakarta. Sedangkan yang dua buku diterbitkan oleh Laduny Alifatama Metro, Lampung.

Hal itu membuktikan bahwa jejak langkah yang telah dicontohkan oleh Pak Brian benar adanya. Dan paparan materi yang telah disampaikan oleh beliau benar-benar bermanfaat buat kita. Jika menekuni dan memanfaatkan dunia digital dengan baik dan maksimal maka kita pun akan memroleh manfaat sesuai dengan yang di inginkan. Yakni, benar-benar literasi digital itu dapat menciptakan kemampuan dan kesempatan yang baik dan bermanfaat untuk kita.

 

Salam Literasi dari Way Kanan, Lampung

 

 

Kamis, 02 Desember 2021

MENJELAJAHI ALAM DIGITAL YANG LUAS

 


Resume 14 GMLD: Mujiatun, S.Pd.

 


 

Layaknya meminum air lautan, semakin diminum semakin dahaga. Begitulah kira-kira bahasa perumpaan untuk melukiskan apa yang sedang saya rasakan dalam mengikuti kegiatan ini. Semakin diikuti maka semakin penasaran dengan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang akan dishare oleh para narasumber hebat di dunia literasi.

Oleh sebab itulah, saya selalu mengikuti kegiatan Pelatihan  Guru Motivator Literasi Digital (GMLD) ini dengan fokus hingga usai. Terlebih narasumber yang hadir di pertemuan ke-14 ini adalah Ibu Maesaroh, M.Pd. Beliau menyampaikan materi dengan judul “Menjelajah Alam Digital yang Luas” pada hari Rabu, 1 Desember 2021. Materi tersebut sangat menarik dan membuat saya semakin semangat  untuk mengikutinya.

Sebelum memulai materi, Ibu Maesaroh menyapa peserta dan memperkenalkan diri terlebih dulu. Berdasarkan biodata dan cara menyapa peserta, beliau adalah seorang penulis andal, blogger milenial, karya dan prestasinya sangat banyak, dan cantik. Akan tetapi, beliau sangat hamble dan ramah kepada siapa pun termasuk kepada para peserta pelatihan.

Di zaman milenial yang serba digital ini, banyak orang yang mendadak menjadi terkenal. Jangankan kita sebagai seorang guru, bahkan anak-anak didik pun banyak yang jadi selebgram, seleb tiktok, dan lain-lain. Hal itu dikarenakan oleh pengaruh dunia digital yang begitu luas. Namun, dari sekian banyak aplikasi dunia maya yang digunakan adakalanya justru menjerumuskan mereka. Sehingga mereka dengan mudahnya menjadi penyebar informasi hoax. 

Sehubungan dengan hal itu, Ibu Maesaroh menjelaskan bahwa untuk mengembangkan budaya literasi diperlukan kecakapan. Yakni kecakapan dalam menggunakan media digital secara santun dan bertanggung jawab. Sehingga kita mendapatkan informasi yang akurat dan akuntabel.

Selain itu, kita pun harus cerdas bermedia sosial yang artinya harus cerdas dalam berliterasi. Untuk itu diperlukan edukasi yang masif dalam menggerakan literasi digital. Sehingga setiap individu dapat memahami informasi dengan mudah dan benar.

Berikut empat pilar dalam memahami literasi digital.

1.   Digital Culture. Maksudya cakap bermedia digital dengan memanfaatkannya

      sebagai alat untuk menghubungkan satu koneksi menuju seluruh dunia

2.   Digital Safety. Yaitu cakap dalam melindungi diri dan aset digital ketika sedang

      berada di dunia maya.

3.   Digital Ethics. Yakni santun di dalam menggunakan media digital dengan tidak

      mengalahgunakan alat digital sebagai penyebar informasi hoaks.

4.   Digital Skill. Maksudnya cakap secara teknologi dalam menggunakan piranti digital sebagai alat untuk meng up grade pengetahuan. Adapun kecakapan dalam hal ini meliputi 8 kecakapan (cakap dalam memanfaatkan ilmu coding, collaboration, cloud software, word processing software, screen casting, personal digital archiving, information evaluation, dan use of social media).

 

Sebagian besar anak didik kita sudah menggunakan piranti digital. Mereka sangat pandai bergaul di dunia maya. Tak jarang ketika gurunya belum mengerti sebuah aplikasi, justru mereka sudah mahir. Oleh sebab itu, sebagai seorang guru kita harus menggaungkan literasi digital. Baik kepada anak didik ataupun masyarakat di lingkungan kita.  Sehingga mereka tidak salah dalam memanfaatkannya.

Sebagai salah satu strategi manajemen pendidikan abad 21, di dalamnya meliputi tata kelola kelembagaan dan sumber daya masunia. Untuk itu,  edukasi dari berbagai pihak sangat membantu dalam meningkatkan budaya cerdas berliterasi. Sehingga generasi penerus bangsa mampu menyarig  informasi yang beredar dengan baik.

Pemahaman literasi digital yang buruk akan berpengaruh pada psikologis anak dan remaja.  Mereka cenderung menghina dan bersikap iri terhadap orang lain. Hal itu dapat mengakibatkan remaja depresi, tertekan perasaan, dan menjadi sensitif.

Bu Maesaroh menegaskan bahwa penggunaan piranti digital terlampau sering dapat menimbulkan Digital Fatigue, ciri-cirinya sebagai berikut. Perasaan lelah, bosan, malas, dengan berbagai kegiatan digital seperti zoom meeting, webinar, media sosial, dan berbagai platform digital lain. Mata terasa sakit, lelah, dan perih. Sakit kepala dan migrain. Nyeri otot leher, bahu, atau punggung. Sensitif terhadap cahaya, gangguan pada fokus, konsentrasi, dan memori. Merasa putus asa dan tidak berdaya, kuwalahan menghadapi situasi yang berulang. Badan terasa lemah, lesu, tidak bertenaga, dan malas bergerak. Muncul perilaku yang aneh dan tidak wajar.

Oleh sebab itu, kita sebagai seorang guru harus menjadi stakeholder dalam pengembangan literasi media digital. Karena media digital merupakan alam maya yang mampu membawa kita terhubung pada dunia yang lebih luas. 

Menurut Bu Maesaroh ada lima kecakapan yang perlu dikuasai dalam berliterasi digital.

1.   Photo visual literacy. 

Yaitu kemampuan untuk membaca dan menyimpulkan informasi dari visual.

2.   Reproduksi literacy. 

Yakni kemampuan menggunakan teknologi digital untuk menciptakan karya baru.

3.   Percabangan literacy

Yaitu kemampuan untuk menavigasi di media non-linear dari ruang digital.

4.   Informasi literacy. 

Yaitu kemampuan untuk mencari, menemukan, menilai dan mengevaluasi secara kritis informasi yang di temukan di web.

5.   Sosio-emosional literacy. Yaitu kemampuan yang mengacu pada aspek-aspek sosial dan emosional yang hadir secara online. Baik melalui sosialisasi, dan berkolaborasi, atau hanya mengonsumsi konten.

Berikut delapan elemen esensial untuk mengembangkan literasi digital. Kultural, yaitu pemahaman ragam konteks pengguna digital. Kognitif, yaitu daya pikir menilai konten. Konstruktif, yaitu reka cipta sesuatu yang ahli dan aktual.  Komunikatif, yaitu memahami kinerja dan jejaring komunikasi di dunia digital. Kepercayaan diri yang bertanggungjawab. Kreatif, melakukan hal baru dengan cara baru. Krisis dalam menyikapi konten. Bertanggungjawab secara sosial.

Berikut Lima Cara dalam Meliterasi Media Sosial. 

1.        Perhatian 

Kemampuan untuk mengidentifikasi ketika dibutuhkan fokus perhatian dan mengenali ketika multitasking bermanfaat. Perhatian dapat dicapai dengan memahami bagaimana pemikiran orang.

2.        Partisipasi

Mengetahui kapan dan bagaimana partisipasi merupakan hal penting. Partisipasi memberikan pengguna pengalaman berbeda saat menjadi produktif. Partisipasi dalam media sosial dibedakan menjadi dua yaitu netizen aktif dan netizen pasif.

3.    Kolaborasi

Pengguna dapat mencapai lebih dengan bekerja sama dibandingkan dengan bekerja sendirian. Melalui kolaborasi, redudansi dapat dihilangkan dan pekerjaan dapat didistribusikan.

4.    Kesadaran jaringan

Jaringan sosial saat ini diperluas dengan adanya teknologi. Masyarakat dapat menjadi anggota dari newsgroup, komunitas virtual, situs gossip, forum dan organisasi lainnya.

5.   Pemakaian secara kritis

Pemakaian secara kritis adalah evaluasi tentang apa dan siapa yang dapat dipercayai. Ada Kita sebaiknya melakukan identifikasi sebelum memercayai, mengomunikasikan, atau menggunakan apa yang ditulis oleh orang lain.

Bu Maesaroh menegaskan bahwa literasi digital merupakan suatu keterampilan yang diperlukan untuk dapat melakukan aktifitas bermedia sosial dengan aman. Sebagai warganet yang baik, kita harus mampu menyaring dan memberikan informasi yang edukatif.

Hal tersebut sesuai dengan istilah media sosial yang dikemukakan oleh (Taylor & Francis Online, 2014) bahwa media sosial memiliki akronim sebagi berikut.  Sharing views, optimizing knowledge, collaborating on projects, investigating new ideas, advocacy for your service provision, learning from others, making new connections, enhancing your practice, debating the future, inspirational support, an essensial tools for your information toolbox.

Membangun mental digital berarti membangun karakter para generasi bangsa menuju masa emas 2045. Generasi milenial dalam dunia digital akan terus menggelinding dan akan menjadi pemimpin bangsa di masa depan. Target Indonesia emas (2045) akan tercapai bila generasi milenial saat ini melek wawasan kebangsaan, dan menguasai literasi kebangsaan.

Sarat cerdas berliterasi digital adalah memiliki karakter kebangsaan yang perlu dijunjung  tinggi dan harus menjadi poin utama dalam berbagai aspek. Berikut beberapa nilai karakter yang perlu ditanamkan. Nilai kejujuran, nilai semangat, nilai kebersamaan atau gotong royong, nilai kepedulian  atau solidaritas,  nilai sopan santun, nilai persatuan dan kesatuan, nilai kekeluargaan, dan nilai tanggung jawab.

Demikian resume saya dari materi yang telah dipaparkan secara jelas dan lugas oleh Ibu Maesaroh dalam pertemuan ke-14 ini. Semoga bermanfaat bagi kita untuk mengarungi dunia maya yang semakin canggih dan luar biasa. Sehingga kita mampu memanfaatkan media digital dengan bijak dan cerdas.

 

Salam Literasi dari Way Kanan, Lampung     

 

BERBINCANG DENGAN HOAX, MEDIA SOSIAL, DAN DUNIA DIGITAL

 


Resume 13 GMLD: Mujiatun, S.Pd.

 


 

Sebagaimana pertemuan-pertemuan yang lalu, pertemuan kali ini masih tetap saya nanti. Dengan rasa rindu ingin jumpa sang idola walau hanya sebatas dunia maya. Sosok kepala sekolah yang masih sangat muda, kreatif, inovatif, dan sangat aktif di dunia literasi. Meskipun masih muda usia tetapi karya dan prestasinya sudah luar biasa. Betul-betul sosok yang mewakili seorang pendidik dan guru masa kini, yakni guru milenial di era digital.

Beliau adalah Ibu Aam Nurhasanah yang sering saya sapa dengan panggilan Teh Geulis. Selain cerdas, berbakat, dan berprestasi beliau pun sangat ramah dan hamble. Mau bergaul dengan siapa pun di grup. Mudah akrab dan selalu merespon kawan-kawan yang memerlukan bimbingan dalam menulis.

Saya mengenal Teh Aam setahun yang lalu, yaitu di grup Belajar Menulis PGRI Bersama Omjay gelombang 17. Kami belajar bersama dalam grup tersebut selama kurang lebih tiga bulan. Pada saat itu beliau sering bertindak sebagai moderator dalam kegiatan dan juga menjadi narasumber.

Alhamdulillah, pada pertemuan ke-13 Pelatihan Guru Motivator Litersi Digital (GMLD) ini beliau hadir sebagai narasumber. Saya sangat senang dan bertambah semangat untuk mengikuti paparan materi dari beliau. Terlebih, tema materi kali ini sangat menarik, yaitu “Berbincang dengan Hoax, Media Sosial, dan Dunia Digital”, yang beliau sampaikan pada hari Senin 29 November 2021.

Berdasarkan biodata pribadinya, Bu Aam Nurhasanah, S.Pd. Lahir di Cipanas pada tanggal 12 Agustus 1988. Pendidikan S1 di STKIP SETIA BUDHI Rangkasbitung, Prodi DIKSATRASIADA dan lulus tahun 2012. Saat ini, menjabat sebagai Kepala SMPS MATHLA UL HIDAYAH CIPANAS.

Beliau merintis karir sebagai blogger, penulis pemula, melangkah menjadi moderator, narasumber, dan kurator. Saat ini sedang belajar menjadi editor dari naskah peserta kelas belajar menulis Omjay dan naskah guru lainnya. Dengan keuletan dan komitmen menulis setiap hari, beliau pernah meraih Juara 1 Lomba Blog PGRI dan Juara 10 besar HUT AISEI kategori artikel favorit. Sungguh, sebuah pencapaian luar biasa yang sangat memotivasi dan menginspirasi.

Bu Aam melontarkan pertanyaan kepada peserta sebelum memulai paparan materinya. Yakni pertanyaan tentang apakah itu hoaks. Peserta pun merespon dengan memberikan jawaban tentang pengertian hoaks berdasarkan pengetahuannya. Tentu beragam jawaban dari para peserta. Akan tetapi, rata-rata hampir sama, yakni sesuatu yang bersifat bohong atau belum tentu kebenarannya. 

Berdasarkan jawaban peserta tersebut beliau menyimpulkan bawah hoax adalah berita bohong yang belum jelas kebenarannya. Oleh sebab itu, kita jangan mudah percaya atau langsung share info tersebut tanpa memastikan sumber dan kebenarannya. Jika menerima berita hoax dari orang yang belum dikenal, sebaiknya kita melaporkannya ke kominfo. Sehingga berita hoaks tersebut tidak menyebar ke mana-mana.

Kita dapat mengenali informasi hoaks dari ciri-ciri berikut.

1.   Menciptakan kecemasan, kebencian, permusuhan. Sumber tidak jelas dan tidak ada yang bisa dimintai tanggung jawab atau klarifikasi.

2.    Pesan sepihak, menyerang, dan tidak netral atau berat sebelah. Mencatut nama tokoh berpengaruh atau pakai nama mirip media terkenal.

3.  Memanfaatkan fanatisme atas nama ideologi, agama, suara rakyat. Judul dan pengantarnya provokatif dan tidak cocok dengan isinya. Memberi penjulukan, meminta supaya diviralkan.

4.    Menggunakan argumen dan data yang sangat teknis supaya terlihat ilmiah dan dipercaya.

5. Artikel yang ditulis biasanya menyembunyikan fakta dan data serta memelintir pernyataan narasumbernya. Berita ini biasanya ditulis oleh media abal-abal yang tidak jelas alamatnya.

6.  Manipulasi foto dan keterangannya. Foto-foto yang digunakan biasanya sudah lama dan berasal dari kejadian di tempat lain dan keterangannya juga dimanipulasi.

Bila menemui sesuatu yang bersifat hoaks di grup, sebaiknya kita menjelaskan bahwa itu hoaks.  Selain itu, kita sedapat mungkin untuk tidak meneruskan informasi hoaks tersebut ke orang lain atau pun ke grup lain.  Sehingga orang yang tidak tahu bahwa itu hoaks akan memahami dan akan terhindar dari hal-hal negatif akibat hoaks

Dengan pesatnya perkembangan dunia digital, makin marak pula berita hoax bertebaran di media sosial. Hal ini bisa disebabkan oleh pengguna media sosial lebih banyak berperan seabagai konsumen daripada konten kreator. Konten kreator pun saat ini masih lebih banyak membuat konten negatif daripada yang positif.

Oleh sebab itu, guru sebagai pendidik berperan penting dalam menyikapi kondisi tersebut. Mari kita mulai dari diri sendiri untuk membuat dan menciptakan konten-konten positif. Yakni, konten-konten yang bermanfaat bagi orang banyak. Baik konten yang berisi informasi penting ataupun hal-hal yang dapat memotivasi dan menginspirasi. Sehingga peserta didik kita akan terbiasa memposting atau pun mengunggah sesuatu yang positif pula.

Demikian resume yang dapat saya tulis dari paparan materi Bu Aam Nurhasanah, sosok yang sangat saya kagumi selama ini. Meskipun secara usia, beliau lebih muda 20 tahun dari saya tetapi gerak langkahnya benar-benar membuat saya terpesona. Semoga kita dapat mencontoh gerakan perubahan positif yang telah dilakukan oleh beliau. Aamiiin.

 

Salam Literasi dari Way Kanan, Lampung

 

 

BERBAGI PRAKTIK BAIK LITERASI DIGITAL

  RESUME 17 GMLD: MUJIATUN, S.Pd.   Dulu, waktu kecil saya suka makan tebu tetapi sudah lama sekali tidak pernah memakannya. Mungkin s...