Selasa, 23 Februari 2021

TRIK MENJADI GURU BERPRESTASI ALA ABAH DEDE

 

TRIK MENJADI GURU BERPRESTASI ALA ABAH DEDE

Oleh Mujiatun, S.Pd.

(SMPN 2 Banjit, Way Kanan, Lampung, NPA 0810100104)

(Tantangan Menulis Hari Ke-23: Selasa, 23 Februari 2021)

Pertemuan Ke-22 Bersama Bapak Dede Suryana (Abah Dede)

 

“Tuntunlah anak didik kita, suatu saat tangan anak ini akan menuntun kita

ke syurga-Nya Allah”. (Abah Dede)

 

Masya Allah, kalimat motivasi dari Bapak Dede Suryana, S.Pd. MM di atas sangat menyentuh hati saya. Terharu rasanya, menyimak paparan materi beliau dari awal hingga akhir. Motivasi-motivasi yang beliau berikan kepada peserta Pelatihan Belajar Menulis Gelombang 17 malam itu benar-benar semakin memantik renjana saya dalam berkarya.

Bapak Wijaya Kusumah yang lebih akrab dipanggil dengan Omjay  ini memang luar biasa. Beliau selalu menghadirkan narasumber hebat di setiap pertemuan dalam Pelatihan Belajar Menulis Gelombang 17. Sehingga peserta pelatihan selalu semangat untuk mengikuti dan menyimak materi hingga usai.

Pada pertemuan ke-22 (Senin, 22 Februari 2021), Omjay pun menghadirkan narasumber yang luar biasa. Beliau adalah Bapak Dede Suryana, S.Pd. MM yang hadir didampingi oleh Bu Aam Nurhasanah sebagai moderator yang memandu kegiatan malam itu.  

Bapak Dede Suryana yang sering disapa dengan Abah Dede merupakan seorang teladan sejati yang sangat rendah hati menurut saya. Meskipun beliau memiliki segudang prestasi tetapi tak pernah menyombongkan itu sama sekali.

Hal itu terlukis pada setiap tutur kata beliau yang ramah, santun, dan penuh motivasi. Sehingga saya benar-benar terkesima menyimak paparan materi beliau malam itu. Sesuai dengan tema yang beliau sajikan malam itu adalah “Motivasi Berprestasi”.

 
Abah Dede Guru Berprestasi dan Guru Inspiratif 2020

Paparan beliau benar-benar membuat saya semakin termotivasi untuk mengukir prestasi. Malu rasanya saya, telah 25 tahun menjadi guru ASN dan telah 13 tahun menjadi guru bersertifikasi tetapi belum sebuah karya pun saya miliki. Sementara Abah Dede, seorang guru honorer mampu berkarya dan telah memiliki segudang prestasi.

Saya pun terharu malam itu menyimak kisah perjuangan Abah Dede dalam dunia pendidikan. Bermodalkan ijazah SMA, beliau mengabdikan diri menjadi seorang guru honorer di sebuah sekolah. Bertahun-tahun mengajar dengan hati ikhlas dan tak mengaharap balas. Beliau jalani tugas mengajar dan mendidik anak-anak bangsa ini dengan sabar dan tulus hati.

Selama 34 tahun Abah Dede mengabdikan diri sebagai seorang guru honorer hingga saat ini. Beliau tetap bertahan dan tidak berpaling ke profesi lain karena Abah mencintai profesi guru dengan sepenuh hati.


 
Abah Dede Bersama Anak Didik

Banyak profesi di luar sana dan menurut Abah semua profesi itu baik. Akan tetapi, profesi seorang guru itu sangat MULIA. Sebab, apa pun profesi di luar sana, tanpa seorang guru tak akan terjadi. Oleh sebab itu, Abah sangat bangga dan bersyukur menjadi seorang guru.

Beliau berharap, agar kita mensyukuri karunia Allah ini. Dengan cara menjadi seorang guru yang benar-benar melayani anak didik. Karena guru merupakan seorang fasilitator dan motivator bagi mereka. Terlebih di masa pandemi seperti saat ini.

Abah Dede benar-benar seorang teladan sejati yang sangat rendah hati. Meskipun prestasinya sudah tak terhitung dengan jari tetapi beliau tak pernah menyombongkan diri. Bahkan selalu merendah kepada kami. Beliau laksana ilmu padi, makin merunduk ketika makin berisi.

Menurut beliau, segala prestasi yang diperoleh itu merupakan bonus dari Allah. Yang penting bagi beliau berkiprah di dunia pendidikan itu dengan ketulusan hati demi anak-anak bangsa ini. Beliau pun yakin bahwa di dalam hidup kita akan dipertemukan dengan pertemuan-pertemuan yang “misterius”. Setelah orang lain mengakui kemampuan dan keunggulan diri kita, maka akan memicu sirkuit yang luar bisa.

Hal itu telah dialami oleh Abah sendiri dalam kehidupan ini. Beliau mampu meraih berbagai prestasi dengan beberapa trik berikut ini.

1.   Melakukan Sesuatu dengan Hati

Artinya, kita lakukan profesi kita dengan sepenuh hati. Yakinlah, Allah akan memberikan sesuatu yang manis buah dari keikhlasan hati kita itu.

 

2. Mencatat Sesuatu yang Harus Dikerjakan dan Mengerjakan yang Sudah     Dicatat.

Maksud Abah adalah jika ada ide segera tuliskan, jika ada pekerjaan pun segera selesaikan. Sehingga nanti akan timbul permasalahan. Oleh sebab itu, kita harus mencari solusi dari permasalahan tersebut. Jangan pernah menunda suatu pekerjaan.

 

3. Jangan Malu Bertanya (Belajar)

Untuk menyelesaikan dari segala persoalan yang kita hadapi, bila kita tidak tahu haruslah bertanya kepada yang lebih paham. Kerena ciri-ciri orang berpikir adalah mau bertanya kepada orang lain.

 

4. Mau Berbagi

Abah selalu melakukan hal ini, yakni tak sungkan untuk selalu berbagi ilmu, pengetahuan, dan pengalaman kepada siapa pun yang membutuhkan. Sebagaimana yang beliau lakukan malam itu di grup pelatihan menulis. Menurut beliau, dengan berbagi, maka ilmu pengetahuan dan wawasan kita akan semakin berkembang.

 

5. Selalu Bersyukur

Hal ini selalu Abah lakukan sebagai wujud menerima segala rezeki yang Allah berikan. Sehingga apa pun yang Abah terima menjadi barokah dan menjadi penyebab kebahagiaan dalam hidup beliau.

 

Itulah sebagian trik yang diberikan oleh Abah malam itu untuk meraih sebuah prestasi dan sebuah kesuksesan di bidang pendidikan. Selain itu, masih banyak lagi tips dan jurus-jurus penting bagi seorang guru dalam menghadapi berbagai kendala dalam pendidikan.

Akan tetapi yang paling berkesan buat saya adalah jawaban Abah dari pertanyaan saya malam itu. Saya menanyakan kiat Abah bisa meraih beberapa prestasi yang luar biasa meskipun seorang guru honorer. Sementara saya sudah ASN 25 tahun belum pernah meraih prestasi apa-apa.

Jawaban beliau sungguh luar biasa. Abah mengatakan bahwa tahun ini kesempatan beliau menjadi seorang guru berprestasi dan kemungkinan tahun ini saya. Menurut beliau tidak ada kata terlambat dalam berkarya. Sebab Abah pun meraih gelar S1 di usia 40 tahun dan gelar S2 di usia 50 tahun.

Subhanallah, malam itu saya benar-benar merasa memperoleh motivasi yang sangat bergizi dari seorang teladan sejati yang rendah hati. Alhamdulillah, saya memperoleh kesempatan emas bisa masuk di grup yang hebat ini. Dan berjumpa dengan orang-orang yang luar biasa memotivasi dan menginspirasi.

 


Salam Literasi,

Way Kanan, Lampung, 23 Februari 2021

 

Senin, 22 Februari 2021

BERSINERGI DENGAN PUTRA TERCINTA DALAM BERKARYA

 

BERSINERGI DENGAN PUTRA TERCINTA DALAM BERKARYA

Oleh Mujiatun, S.Pd.

(SMPN 2 Banjit, Way Kanan, Lampung, NPA 0810100104)

(Tantangan Menulis Hari Ke-22: Senin, 22 Februari 2021)


 Di Mana Bumi Dipijak, di Situ Langit Dijunjung,

Kami Bangga Menjadi Warga Lampung

 

Sudah beberapa kali bersinergi dengan putra pertama saya ini dalam berkarya. Akan tetapi, event menulis buku “Kumpulan Pantun Mutiara Budaya Indonesia” ini terasa sangat luar biasa. Ini merupakan event menulis yang paling bergengsi menurut saya.

Seperti halnya event menulis buku antologi “Pantun Nasihat Guru untuk Murid”, event menulis kali ini pun melalui proses pelatihan yang lumayan lama. Untuk mencipta 6 untai pantun, kami harus belajar dan bimbingan selama 4 bulan.

Cipta karya pantun kali ini merupakan event yang sangat spesial. Untuk di Indonesia baru kali pertama diselenggarakan. Dan ini digagas oleh Bang Asrizal Nur, seorang sastrawan dan budayawan Indonesia asal Riau. Beliau adalah pemimpin Perkumpulan Rumah Seni Asnur (PERRUAS), Jakarta.

Pelatihan menulis kali ini bertujuan untuk melatih peserta agar mampu mencipta sebuah karya sastra berbentuk pantun. Yaitu pantun khusus yang mengangkat adat dan budaya daerah yang ada di Indonesia. Sebagai upaya melestarikan warisan budaya adiluhung Nusantara.

Pantun merupakan khasanah budaya asli tanah air yang selayaknya dilestarikan agar tak punah keberadaannya. Oleh sebab itulah, saya dan putra saya tertarik mengikuti pelatihan ini.

Dalam pelatihan ini kami dibimbing langsung oleh beberapa rekan yang sudah terlatih, yaitu Bunda Rina Susanti dari Riau dan Bunda Yurnelis dari Padang, Sumatera Barat serta Bunda Sabariah dari Aceh.

Pelatihan menulis pantun mutiara budaya Indonesia ini lebih sulit dan rumit dibandingkan menulis pantun nasihat guru untuk murid. Sebab, kami harus membawa adat budaya dan ciri khas daerah masing-masing pada bagian sampiran. Sedangkan pada bagian isi, harus berupa imbauan untuk melestarikan adat dan budaya setempat.

Jadi, bukan sekadar memilih kata dan rima yang tepat untuk dirangaki menjadi larik-larik pantun. Lebih dari itu, kami pun harus memahami adat budaya, makanan khas, pakaian adat, atau tempat-tempat wisata yang menjadi ikon daerah tersebut.

Kami asli suku Jawa tetapi sudah 25 tahun berdomisili di daerah Lampung. Oleh sebab itu, kami pun mengangkat adat dan budaya daerah Lampung dalam pantun tersebut. Saya mengangkat adat budaya Lampung secara umum sedangkan putra saya khusus mengangkat adat budaya daerah Way Kanan.

Kami selalu berprinsip “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Kami tinggal di daerah Lampung, sudah selayaknya bila kami pun menjunjung adat dan budaya daerah Lampung.

Setelah melalui belajar, latihan, dan bimbingan langsung dari para senior selama kurang lebih 4 bulan, akhirnya pantun kaarya kami pun disetujui oleh Bang Asnur. Menurut beliau pantun kami sudah layak untuk dipublikasikan.

Pelatihan menulis yang diikuti oleh 350 peserta dari Aceh sampai Papua ini menghasilkan 2.100 untai pantun mutiara budaya Indonesia. Karya itu pun dibukukan dan diterbitkan oleh Bang Asnur. Buku ber-ISBN tersebit berjudul “Kumpulan Pantun Mutiara Budaya Indonesia”.

 


Pantun Karya Kami dalam Buku “Kumpulan Pantun Mutiara Budaya Indonesia”

Bangga dan bahagia rasanaya, kami yang pemula di dunia menulis ini bisa sebuku dengan pemantun-pemantun hebat dari seluruh Nusantara. Rasanya benar-benar tak percaya. Hingga saat ini, buku ekslusif dan elegan itu selalu saya buka dan saya baca. Benar adanya, di antara penulis itu banyak pejabat daerah yang turut serta berkarya.

Beliau-beliau itu di antaranya adalah Sekda Kota Batam yaitu Bapak Jefridin Hamid. Kepala Kantor Kementrian Agama Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, Bapak Erman Zarudin. Ada juga Bapak Hari Trisantosa, beliau adalah Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Sungguh kesempatan emas buat kami untuk menimba ilmu dari mereka. Banyak yang kami peroleh dari pelatihan tersebut. Ilmu, pengetahuan, buku, sertifikat, baju, dan sharing pengalaman berharga di bidang literasi.

Selain itu, putra saya, M. Wiratama Albarizi, S.Pd. terpilih menjadi Pemantun Termuda di Indonesia. Oleh karena itu, PERRUAS pun menganugerahkan piagam penghargaan kepada putra saya.

Kami memperoleh apresiasi yang luar biasa dari pemerintah daerah setempat. Bapak Bupati, Kepala Dinas Pendidikan, dan Ketua PGRI Way Kanan pun memberikan apresiasi terhadap prestasi kami ini.

Bupati Way Kanan memberikan tropi sebagai bentuk apresiasi dan motivasi buat kami. Pengahrgaan itu diberikan kepada kami pada Peringatan HUT Ke-75 PGRI dan Hari Guru Nasional (HGN) 2020.


 
Apresiasi dari Bupati dan PGRI Way Kanan

Semua itu membuat kami merasa bangga dan bahagia. Tetapi yang paling membahagiakan adalah, kami dapat membawa nama sekolah, Way Kanan, dan daerah Lampung tercinta ini di tingkat Nasional melalui karya kami.

Semoga kisah kami ini dapat memotivasi dan menginspirasi pembaca. Mari berkarya selagi kita bisa. Terbukti, pandemi tak menghalangi kita untuk tetap berkarya.

Meskipun saya sudah lanjut usia, 50 tahun kini tetapi saya tetap berusaha untuk berkarya. Sebab, dulu belum sempat berkarya sama sekali. Putra saya pun telah membuktikan, ia tetap berkarya meskipun masih belia usianya. Bahkan masih berstatus sebagai guru honorer selama 2 tahun ini.

Akan tetapi, hal itu tak menjadikan alasan baginya untuk enggan berkarya. Sebab guru mulia karena karya. Dan bukan mulia karena selembar SK.


Salam Literasi,

Way Kanan, Lampung, 22 Februari 2021

 

 

Minggu, 21 Februari 2021

BERKARYA BERSAMA PUTRA SULUNG

 

             BERKARYA BERSAMA PUTRA SULUNG

Oleh Mujiatun, S.Pd.

(SMPN 2 Banjit, Way Kanan, Lampung, NPA 0810100104)

(Tantangan Menulis Hari Ke-21: Minggu1 21 Februari 2021)


 Buku Kumpulan “Pantun Nasihat Guru untuk Murid” Karya Saya, Putra Sulung, Dkk.

 

Selain harus mampu mengajarkan cara menulis cerpen, sebagai guru Bahasa Indonesia saya pun harus mampu mengajarkan puisi. Karena puisi juga masuk dalam materi pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah.

Puisi terdiri dari dua macam, yakni puisi lama dan puisi modern. Puisi lama terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu: pantun, syair, gurindam, talibun, dan lain-lain.

Selama ini saya baru mempelajari teknik dan praktik menulis cerpen. Selain itu, juga telah mengikuti kegiatan menulis buku bersama berupa antologi cerpen. Alhamdulillah, sudah ada 10 buku antologi cerpen ber-ISBN yang terbit. Buku-buku tersebut karya saya dan putra sulung, M. Wiratama Albarizi, S.Pd. yang juga guru Bahasa Indonesia, bersama penulis-penulis dari seluruh Indonesia.

Akan tetapi, untuk buku antologi puisi khususnya pantun saya belum pernah mengikuti. Oleh sebab itu, saya pun ingin belajar teknik menulis pantun sekaligus praktik menulis. Kebetulan saat itu, Perkumpulan Rumas Seni Asnur (PERRUAS) di bawah pimpinan Bang Asrizal Nur membuka pelatihan menulis pantun.

 Saya Selalu Bersinergi dengan Putra Sulung, M. Wiratama dalam Berkarya

Saya dan putra sulung pun mengikuti pelatihan tersebut.  Pelatihan dilaksanakan setiap malam minggu selama 2 jam, mulai pukul 19.00 sd 21.00 WIB. Kegiatan pelatihan berlangsung selama 16 kali pertemuan.

Ternyata, menulis dan mencipta pantun yang “KUAT” itu tak semudah yang saya bayangkan selama ini. Tidak cukup hanya memiliki 4 baris seuntai, 2 baris pertama sampiran, 2 baris kedua isi, dan rima akhir AB,AB. Tidak sesederhana itu menurut Bang Asnur, sastrawan dan budayawan Indonesia asal Riau.

Menurut beliau, pantun adalah karya puisi lama yang merupakan karya sastra adiluhung Nusantara yang berkembang secara lisan dari zaman ke zaman. Pantun tidak hanya memiliki kekuatan pada diksi dan rima. Akan tetapi, juga memiliki aturan-aturan baku.

Aturan-aturan baku tersebut akan menguji tingkat penguasaan penulis dalam merangkai kata-kata, diksi, rima, dan kecerdasan dalam menyampaikan gagasan. Itulah kelebihan pantun dibanding puisi modern.


Bait-Bait Pantun Karya Saya dalam Buku “Pantun Nasihat Guru untuk Murid”

 

Kekayaan pantun sebagai budaya sastra lisan harus diupayakan menjadi kekayaan sastra tulisan. Sehingga dapat didokumentasikan dalam bentuk buku yang dapat diwariskan kepada generasi yang akan datang. Dengan demikian sastra lisan berupa pantun ini tidak akan punah dari bumi pertiwi.

Oleh sebab itu, saya mengikuti kegiatan pelatihan menulis pantun tersebut. Dengan tujuan untuk menggali ilmu tentang teknik penulisan pantun sebagai bekal memberikan pembelajaran kepada anak didik. Selain itu, saya pun ingin turut serta melestarikan khasanah budaya asli Indonesia ini.

Dengan bimbingan Bunda Rina Susanti dari Padang dan Bunda Sabariah dari Aceh saya belajar memilih dan merangkai kata-kata untuk jadikan baris-baris pantun. Satu kali pertemuan belum tentu dapat satu bait pantun. Meskipun sudah bagus dan sudah “kuat” menurut kedua pembimbing tersebut tetapi belum tentu menurut Bang Asnur.

Oleh sebab itu, perlu kesabaran dan ketekunan baik dari saya sebagai pembelajar maupun dari beliau-beliau sebagai pembimbing dalam pelatihan itu. Saya tidak menyerah meskipun berkali-kali pantun saya ditolak oleh Bang Asnur dan berkali-kali pula harus direvisi. Justru saya semakin semangat dan penasaran untuk menulisnya kembali.

Dalam belajar, saya selalu berprinsip: bila orang lain bisa, saya pun harus bisa. Oleh sebab itu, saya tetap mengikuti bimbingan dengan sabar dan tekun.


 Pantun Karya Putra Sulung Saya dalam Buku “Pantun Nasihat Guru untuk Murid”

Alhasil, dalam waktu kurang lebih 4 bulan, yaitu pada pertemuan ke-14 pantu nasihat guru untuk murit karya saya pun sudah disetujui oleh Bang Asnur. Menurut beliau, patun karya saya sudah “kuat” dan sudah layak untuk dipublish. Karena antara sampiran dan isi sudah berhubungan erat dan rimanya pun sudah ada di awal dan akhir.

Pelatihan menulis pantun di PERRUAS ini diikuti oleh 275 guru dari seluruh Indonesia. Mereka dari daerah Aceh sampai dengan daerah Papua. Bangga rasanya bisa belajar bersama guru-guru hebat dari seluruh Nusantara. Terlebih dibimbing langsung oleh Bang Asrizal Nur.

Banyak hal yang saya peroleh selama pelatihan online tersebut. Selain ilmu, pengetahuan, dan pengalaman tentang menulis pantun, saya pun memperoleh banyak sahabat hebat yang telah berhasil di bidang literasi.

Dengan demikian, semakin menambah wawasan saya di bidang literasi, khususnya tentang menulis. Yang lebih membanggakan bagi saya dan peserta pelatihan yang lain adalah pantun karya kami tersebut dibukukan oleh Bang Asrizal Nur.

Dalam waktu satu bulan, buku antologi ber-ISBN dengan judul “Pantun Nasihat Guru untuk Murid” itu pun terbit. Alhamdulillah, dari Provinsi Lampung hanya 5 orang yang turut berkarya di buku tersebut. Satu orang dari Kodya Bandarlampung, 2 orang dari Lampung Barat, dan 2 orang dari Way Kanan. Dua orang dari Kabupaten Way Kanan tersebut adalah saya dan putra sulung.

Semoga pantun karya kami ini akan bermanfaat bagi para pembaca. Karena semua berisi pesan yang positif buat murid/peserta didik. Dengan harapan melalui pantun ini khasanah budaya khas nusantara akan tetap lestari keberadaannya. Aamiin.


 

Salam Literasi,

Way Kanan, Lampung, 21 Februari 2021

Sabtu, 20 Februari 2021

TRIK MENULIS BUKU 7 HARI ALA BU IIN

 

TRIK MENULIS BUKU 7 HARI ALA BU IIN

Oleh Mujiatun, S.Pd.

(SMPN 2 Banjit, Way Kanan, Lampung, NPA 0810100104)

(Tantangan Menulis Hari Ke-20: Sabtu, 20 Februari 2021)


 Flayer Pertemuan Ke-21 Bersama Bu Musiin, M.Pd.

 

Hujan deras yang mengguyur bumi pertiwi malam itu, tak menyurutkan niat saya untuk tetap belajar. Semangat untuk menggali ilmu tentang menulis dari narasumber-narasumber hebat di Pelatihan Belajar Menulis Gelombang 17 tetap menyala.

Malam itu, Jumat (19 Februari 2021), merupakan pertemuan ke-21 pada Pelatihan Belajar Menulis di kelas WAG Omjay. Meskipun sudah cukup untuk persyaratan menerbitkan buku tetapi saya masih semangat dan penasaran untuk mengikuti materi-materi berikutnya.

Demikian pula dengan peserta yang lain, malam itu masih antusias mengikuti paparan materi yang disampaikan oleh Ibu Musiin, M.Pd, yang hadir sebagai narasumber. Hal itu tampak dari banyaknya pertanyaan yang menghujani narasumber. Ibu Musiin didampingi oleh moderator andal yang memiliki segudang karya dan prestasi, beliau adalah Ibu Sri Sugiastuti yang akrab disapa dengan Bunda Kanjeng.

Tema yang disajikan oleh Ibu Musiin, M.Pd. pada pertemuan ke-21 adalah "Menaklukkan Tantangan Menulis Nonfiksi 7 Hari" . Sebuah tema yang memantik renjana saya untuk menulis.  Sehingga saya semakin semangat untuk menyimak paparan materi selanjutnya.

Ibu Iin (begitu panggilan akrab beliau) adalah alumni kelas menulis Omjay gelombang 8. Beliau juga berhasil menaklukkan tantangan menulis dari Prof. Eko dengan judul “Literasi Digital Nusantara, Meningkatkan Daya Saing Generasi”. Karya-karya beliau pun telah berhasil diterbitkan oleh penerbit mayor dan dapat kita jumpai di toko buku Gramedia. 


 Buku-Buku Karya Bu Musiin, M.Pd. Terpajang di Rak Buku Gramedia


Prof. Eko itu ibarat master chef  yang memberi banyak pilihan bahan masakan yang bisa diolah menjadi berbagai jenis hidangan. Bahan masakannya telah disediakan oleh Prof. Eko di Ekoji Channel. Begitu Bu Iin memberikan perumpamaan terhadap Prof. Eko.

Sebagaimana penjelasan Prof. Eko, kita bisa menulis apa saja. Ide atau tema tulisan yang sesuai dengan kegemaran, cerita, pengalaman, atau sesuatu yang dikuasai dan dicintai. Pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan yang kita miliki merupakan bentuk buku yang ada di dalam diri kita tetapi belum dipublikasi.

Keterampilan menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa tingkat tinggi. Jika dibandingkan dengan tiga keterampilan yang lainnya, yakni keterampilan menyimak, membaca, dan berbicara.

Dan sudah bukan rahasia lagi bahwa menulis itu bukanlah keterampilan yang mudah untuk dikuasai. Terlebih bagi orang-orang yang masih awam di dunia menulis atau penulis pemula seperti saya. Oleh karena itulah, saya mengikuti pelatihan belajar menulis ini. Dengan harapan dapat mengasah keterampilan menulis dan mampu melahirkan sebuah karya tulis berupa buku.

Bu Iin menjelaskan beberapa hal yang harus kita lakukan sebagai TRIK MENULIS BUKU NONFIKSI DALAM 7 HARI. Berikut uraian trik ala Bu Iin tersebut.

1.  Memiliki Motivasi Menulis

Ketika akan menulis, sebaiknya kita tentukan alasan atau motivasi kita dalam menulis. Dengan demikian, tulisan kita akan jelas arah dan tujuannya. Berikut alasan Bu Iin menjadi penulis. Beliau ingin mewariskan ilmu melalui buku, ingin bukunya terpajang di toko buku daring maupun luring, dan untuk mengembangkan profesi beliau sebagai seorang guru.


 Buku Bu Iin di Gramedia Online


2.  Memiliki Keinginan Kuat untuk Menulis

Agar kita berhasil membuahkan karya tulis tentu saja harus memiliki keinginan atau tekat yang kuat dalam menulis. Demikian halnya dengan Bu Iin, beliau memiliki keinginan kuat  dalam menulis. Sehingga mampu menghasilkan sebuah karya yang dapat mewujudkan harapannya. Hal ini bermula dari keberhasilan Bu Iin dalam menaklukan tantangan menulis buku dalam seminggu dari Prof. Eko.

Buku-buku karya beliau benar-benar terpajang di rak buku toko Gramedia. Hasil karya itu pun mengantarkan beliau ke berbagai kelas menulis. Salah satunya WAG Pelatihan Belajar Menulis PGRI binaan Omjay Gelombang 17 ini.

 

3.   Memahami Pola Penulisan Buku Nonfiksi

Pola penulisan buku nonfiksi menurut penjelasan Bu Iin ada tiga. Pola Hierarkis, yakni buku disusun berdasarkan tahapan dari mudah ke sulit atau dari sederhana ke rumit, contohnya Buku Pelajaran. Pola Prosedural, yaitu buku disusun berdasarkan urutan proses, contohnya Buku Panduan. Pola Klaster, yaitu buku disusun poin per poin atau butir per butir. Pola ini diterapkan  pada buku-buku kumpulan tulisan atau kumpulan bab yang antarbabnya setara. Bu Iin dalam hal ini menggunakan Pola Klaster pada saat menulis buku “Literasi Digital Nusantara”. 

 

4.  Memahami Langkah-Langkah Penulisan Buku Nonfiksi

Selain pola penulisan, kita pun harus memahami langkah-langkah proses penulisan buku nonfiksi. Ada 4 langkah proses penulisan buku nonfiksi menurut Bu Iin. Langkah-langkah itu meliputi: pratulis, menulis draf, merevisi draf, dan menyunting naskah.

Langkah Pertama (Pratulis)

Pada langkah pertama (pratulis) ini yang kita lakukan adalah menentukan tema, menemukan ide, merencanakan jenis tulisan, mengumpulkan bahan tulisan, bertukar pikiran, menyusun daftar, meriset, membuat mind mapping, dan menyusun kerangka tulisan.

Dalam sebuah buku cukup satu tema saja. Contoh tema buku nonfiksi adalah parenting, pendidikan, motivasi dan lain-lain.

Ide yang menarik dari sebuah tema yang telah kita tentukan dapat diperoleh dari pengalaman pribadi, pengalaman orang lain, berita di media massa, status Facebook/Twitter/Whatsapp/Instagram, imajinasi, mengamati lingkungan, hasil perenungan, dan membaca buku.

Tema pendidikan yang diangkat oleh Bu Iin idenya berasal dari berita di media massa, mengamati lingkungan, dan penguatan materi dari Prof. Eko. Yaitu materi yang tersaji di Ekoji channel berjudul Digital Mindset” (The Key to Transform Your Organization) yang ditayangkan pada tanggal 20 Maret 2020.

Sementara referensinya beliau peroleh dari literasi di internet. Referensi itu sendiri terdiri dari: pengetahuan (yang diperoleh secara formal , nonformal , atau informal), keterampilan (yang diperoleh secara formal , nonformal , atau informal), pengalaman yang diperoleh sejak balita hingga saat ini, penemuan yang telah didapatkan, dan pemikiran yang telah direnungkan

Langkah berikutnya adalah pembuatan kerangka menulis yang kemudian diajukan kepada Prof. Eko. Setelah disetujui oleh Prof. Eko dilanjutkan ke proses penulisan. Bu Iin menyusun kerangka buku berdasrkan nasihat Pak Yulius Roma Patandean di channel beliau.

Bu Iin mengikuti jejak Pak Yulius dalam membuat tulisan agar rapi dan tertata sejak awal. Berikut kerangka tulisan beliau.

BAB 1 Penggunaan Internet Di Indonesia

A.    Pembagian Generasi Pengguna Internet

B.    Karakteristik Generasi Dalam Berinternet

BAB 2 Media Sosial

A.    Media Sosial

B.    UU ITE

C.    Kejahatan di Media Sosial

BAB 3 Literasi Digital

A.    Pengertian

B.    Elemen

C.    Pengembangan

D.    Kerangka Literasi Digital

E.    Level Kompetensi Literasi Digital

F.    Manfaat

G.    Penerapan Literasi Digital Pada Lintas Generasi

H.    Kewargaan Digital

BAB 4 Ekosistem Literasi Digital di Nusantara

A.    Keluarga

B.    Sekolah

C.    Masyarakat

BAB 5 Literasi Digital untuk Membangun Digital Mindset Warganet +62

A.    Perkembangan Gerakan Literasi Digital Di Indonesia

B.    Literasi Digital Tanpa Digital Mindset Di Indonesia

C.    Membangun Digital Mindset Warganet +62

 

Anatomi Buku Nonfiksi

Dalam menulis, kita pun harus memahami anatomi buku nonfiksi. Anotomi buku nonfiksi melupti: Halaman Judul, Halaman Persembahan (OPSIONAL), Halaman Daftar Isi, Halaman Kata Pengantar (OPSIONAL, minta kepada tokoh yang berpengaruh), Halaman Prakata, Halaman Ucapan Terima Kasih (OPSIONAL), Bagian /Bab, Halaman Lampiran (OPSIONAL), Halaman Glosarium,      Halaman Daftar Pustaka, Halaman Indeks, dan Halaman Tentang Penulis.

Langkah Kedua (Menulis Draf)

Pada langkah kedua ini kita menulis draf yang terdiri dari: menuangkan konsep dalam tulisan dengan prinsip bebas dan tidak mementingkan kesempurnaan tetapi lebih pada bagaimana ide dituliskan.

Langkah Ketiga (Merevisi Draf)

Pada langkah ketiga ini kita merevisi sistematika/struktur tulisan/penyajian dan memeriksa gambaran besar dari naskah.

Langkah Keempat (Menyunting Naskah berdasarkan KBBI dan PUEBI)

Pada langkah keempat ini kita melakukan sunting naskah berdasarkan KBBI dan PUBI yang meliputi: ejaan, tata bahasa, diksi, data dan fakta, legalitas dan norma.


Dalam menaklukkan tantangan dari Prof. Eko ini, Bu Iin pun mengalami beberapa hambatan ketika menulis. Hambatan-hambatan tersebut meliputi: waktu, kreativitas, teknis, tujuan, dan psikologis.

Menurut Bu Iin, hambatan yang terberat adalah hambatan psikologis. Karena hal ini berkaitan dengan deadline yang diberikan. Memang seharusnya deadline ini justru menjadi trigger bagi kita untuk segera menyelesaikan tulisan.

Akan tetapi, Bu Iin punya trik tersendiri untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut. Diantaranya dengan banyak membaca, mencari inspirasi di lingkungan sekitar, orang sekitar atau terkait dengan nara sumber. Selain itu, disiplin menulis setiap hari, pergi ke pasar dan memasak. Hal ini akan menjadi mood booster untuk bergairah menulis kembali.


Demikian trik dan tips dari Bu Iin dalam menaklukkan tantangan Prof. Eko untuk menulis buku nonfiksi dalam waktu hanya 7 hari. Sebelum mengakhiri paparan materinya malam itu, Bu Iin pun memberikan kalimat motivasi yang dikutip dari penulis legendaris tanah air, yaitu Bapak Pramoedya Ananta Toer. Berikut kalimat motivasi yang selalu membangkitkan semangat saya setiap kali “lesu” menulis.

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.


 

Salam Literasi,

Way Kanan, Lampung, 20 Februari 2021

 

RANGKUMAN MATERI BAHASA INDONESIA KELAS 8 SMP KURIKULUM MERDEKA BAB 1 TEKS LAPORAN HASIL OBSERVASI

  Rangkuman materi ini dibuat dengan tujuan untuk mempermudah peserta didik dalam memahami materi pelajaran BAB 1 TEKS LAPORAN HASIL OBSERVA...