Rabu, 24 November 2021

INKLUSIVITAS DI DUNIA DIGITAL

 


Resume 8 GMLD: Mujiatun, S.Pd.

 


 

Alhamdulillah, di tengah kesibukan sebagai seorang istri, guru, dan ibu dari ketiga putra, saya masih diberi kesehatan dan kesempatan oleh Allah untuk belajar. Yakni, belajar bersama para narasumber hebat dan para guru dari seluruh Indonesia di WA Grup Guru Motivator Literasi Digital (GMLD) 2021.

Seperti biasa, saya sudah menanti pertemuan ke-8 ini dengan semangat walau kini usia sudah tak muda lagi. Tetapi, prinsip belajar sepanjang hayat masih kokoh tertanam dalam sanubari. Pada hari Rabu, 17 November 2021, Bapak Muliadi hadir sebagai narasumber. Beliau mengusung tema yang sangat menarik, yaitu "Inklusivitas di Dunia Digital". 

Sebelum memulai materi beliau memperkenalkan diri kepada para peserta.  Bapak Muliadi lahir di Kalangkangan pada tahun 1971. Saat ini beliau sebagai Guru SMK Negeri 1 Tolitoli. Beliau pun menjabat sebagai Ketua MGMP Matematika SMK Kab. Tolitoli, Sekretaris PGRI Kab. Tolitoli, dan pengajar pada Universitas Terbuka (UT) UPBJJ Palu sejak tahun 2006.

 

Berikut beberapa hal penting yang disampaikan oleh Bapak Muliadi sehubungan dengan materi tentang inklusivitas.

1.        Pengertian Inklusivitas

Menurut beliau, inklusivitas berasal dari kata inclution yang artinya mengajak masuk atau mengikutsertakan. Sedangkan lawan katanya adalah eksklusif atau exclution yang berarti menegaskan atau mengeluarkan. Dengan demikian inklusivitas merujuk kepada sikap menerima atau mengajak kepada siapa saja tanpa melihat perbedaan dalam konteks sosial.

Inklusivitas sebagai sebuah sikap tentu dikaitkan dengan sikap masyarakat terhadap lingkungan sekitarnya. Dalam hal ini, masyarakat yang dimaksud adalah masyarakat digital.

2.        Masyarakat Digaital

Castells menyebut masyarakat digital ini sebagai masyarakat jejaring (network society). Yaitu masyarakat yang terbentuk dari interaksi dan komunikasi melalui perangkat digital. Masyarakat ini merupakan komunitas yang aktif menggunakan media digital dalam berinteraksi.

Selain itu, mereka juga aktif berkomunikasi maupun membuat kelompok-kelompok dalam dunia digital. Aktif pula dalam berinteraksi dalam media untuk saling berbagi, berkumpul secara online, berjual-beli, serta bertukar informasi yang diperlukan.

3.        Alasan Masyarakat Digital Harus Inklusif

a.   Internet bukan lagi barang baru di Indonesia. Oleh sebab itu, internet seharusnya bisa dinikmati oleh siapapun dengan mudah. Dari data yang ada, tercatat Indonesia sebagai salah satu pengguna smartphone terbesar di dunia, setelah China, India, dan AS.

Data ini menunjukkan bahwa Indonesia menjadi salah satu pengguna internet terbesar. Berdasarkan data internetworldstats, pengguna internet Indonesia mencapai 212,35 juta jiwa pada Maret 2021. Sementara rata-rata waktu yang digunakan untuk mengakases internet adalah 8 jam 52 menit atau sekitar 75% dari waktu yang tersedia.

Fakta ini sungguh luar biasa, mengingat hampir 3/4 waktu dihabiskan hanya untuk mengamati perangkat digital yang ada. Sebagian besar pengguna memanfaatkan media sosial untuk berinterkasi, berkomunikasi, atau sekadar mencari informasi. Aplikasi yang paling banyak digunaka yaitu youtube, whatsapp, instagram, facebook, dan twitter.

b. Dunia digital mempertajam perbedaan dan memperluas keragaman baik dari sisi fisik maupun cara pandang sehingga berpotensi menimbulkan kerawanan sosial. Oleh sebab itu, perlu sikap bijak dan benar untuk mengantisipasi terjadinya perselisihan yang memungkinkan perpecahan.

c. Keunikan yang hadir sebagai sesuatu keniscayaan, selayaknya mendapatkan apresiasi yang sesuai  dengan porsi uniknya. Sehingga kebutuhan akan eksistensinya juga terlayani secara adil. Misalnya, layanan  digital harus ramah terhadap para penyandang disabilitas melalui aplikasinya. 

 d.  Seluruh warga negara selayaknya mendapatkan hak yang sama dalam layanan akses digital untuk berbagai keperluan. Hal ini sebagai upaya untuk mempercepat pemerataan pembangunan dan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang ada.

 4.      Inklusif dalam Dunia Digital Terdiri dari 2 sisi

a.    Inklusif bermakna terbuka, yakni dapat menerima perbedaan bukan mempertajam perbedaan. Yakni, dengan cara lebih banyak mengusung nilai yang bersifat universal. Tidak memandang perbedaan sebagai hal yang bersifat eksklusif. Memberikan edukasi yang benar tentang keragaman sebagai bagian dari kehidupan yang harus dihormati.

 b.    Inklusif bermakna adil, yakni dapat dinikmati semua kalangan dengan segala keragaman dan keterbatasan  fisik pengguna. Dan dari seluruh tempat di wilayah Indonesia. Hal ini merupakan tugas dari pengampu kebijakan yaitu pemerintah. Yakni, dengan cara memeratakan  lebih banyak infrastruktur dan menyediakan gawai atau aplikasi yang adaptable terhadap penyandang disabilitas.

Tentu sangatlah indah andaikata inklusivitas dapat kita hadirkan di lingkungan masing-masing. Oleh sebab itu, kita juga harus menyediakan kemudahan kepada para penyandang disabilitas. Sehingga seluruh masyarakat Indonesia tanpa terkecuali dapat menikmati kemudahan dalam dunia digital. Tentu dengan demikian, masyarakat yang adil dan makmur sesuai dengan harapan kita semua akan terwujud.

 

 

Rabu, 17 November 2021

MENYALURKAN HOBI DI PLATFORM DIGITAL

 


Resume 7 GMLD: Mujiatun, S.Pd.

 


 

Layaknya meminum air lautan, semakin diminum semakin dahaga rasanya. Demikian pula dengan mengikuti kegiatan Guru Motivator Literasi Digital (GMLD) ini. Semakin diikuti semakin membuat saya penasaran dengan materi-materi yang akan disampaikan oleh para narasumber andal yang hadir.

Pada pertemuan ke-7 kali ini Ibu Rita Wati, S.Kom. hadir sebagai narasumber. Beliau mengangkat tema tentang “Menyalurkan Hobi di Platform Digital”. Subhanallah, tema ini benar-benar membuat saya semakin tak sabar untuk menantikan Bu Rita memaparkannya. Dan saya pun siap menyimak hingga paparan materi usai.

Untuk kesekian kalinya saya mengikuti paparan materi beliau. Pertama kali kenal beliau di Grup WA Belajar Menulis PGRI Bersama Omjay Gelombang 17. Saya sangat menyukai cara Bu Rita dalam menjelaskan materi-materi webinar. Bahasa yang beliau gunakan sangat lugas, jelas, dan sederhana. Sehingga saya mudah memahami maksud dan tujuan uraian materi yang disampaikan.

Bu Rita mengawali materi dengan mengadakan voting tentang hobi peserta pelatihan GMLD. Berbagai hobi pun bermunculan di form voting. Mulai dari hobi bermain musik, menyanyi, menanam dan merawat bunga, memasak, menulis, dan lain-lain. Menurut beliau, andai hobi-hobi itu disalurkan melalui platform digital tentu akan sangat bermanfaat. Bahkan hasilnya akan luar biasa, di luar ekspektasi kita.

Bagi yang hobi menulis bisa disalurkan melalui blog. Seperti yang dilakukan oleh Bu Rita. Banyak platform yang dtelah dimanfaatkan oleh Bu Rita untuk menulis. Selain menulis di blog, beliau pun menulis Web YPTD.

Untuk yang hobi bernyanyi  dan bermain musik bisa disalurkan ke dalam Youtube. Saat ini, banyak orang yang terkenal melalui channel Youtube. Padahal awalnya orang awam yang  hanya hobi menyanyi. Karena lagu rekamannya dishare di youtube dan dinikmati oleh banyak orang. Sehingga orang tersebut menjadi terkenal seperti artis.

Hobi memasak dan merawat bunga pun tak kalah kerennya. Banyak youtuber yang meraup dollar dari hobinya tersebut. Mereka rekam cara atau tutorial memasak dan merawat bunga tersebut sehingga banyak sekali orang-orang yang memiliki hobi serupa akan berselancar menonton konten tersebut hingga berkali-kali. Hal ini tentu saja bermanfaat bagi orang lain juga mendatangkan keuntungan buat kita.

Bu Rita menjelaskan bahwa hobi yang disalurkan dengan tepat dalam media digital hasilnya akan di luar dugaan. Sudah banyak Youtuber yang menuai penghasilan fantastis dari hobinya. Terlebih kita sebagai seorang guru. Jika konten-konten materi pembelajaran kita buat dan kita share di youtube tentu akan lebih bermanfaat.

Baik bermanfaat bagi para siswa maupun guru-guru yang membutuhkan konten karya kita tersebut. Sehingga banyak guru maupun siswa yang terbantu dengan konten kita. Seperti halnya Bu Rita, beliau mulai diundang menjadi narasumber level nasional salah satunya karena aktif membuat konten di blog dan Youtube.

Berikut manfaat hobi yang disalurkan melalui platform digital menurut Bu Rita.

1.                 1.   membangun personal branding

  1. bermanfaat untuk orang banyak
  2. meninggalkan jejak digital
  3. mulai dikenal dan diundang dalam berbagai seminar/workshop
  4. mendapatkan income tambahan

 


Menurut beliau selain manfaat tersebut, dengan menggunakan platform digital untuk menyalurkan hobi, kita akan menjadi semakin kreatif. Karena kita akan selalu memiliki ide baru untuk dituangkan. Tentu saja kita perlu dukungan komunitas seperti grup-grup menulis dan GMLD ini. Kita akan selalu termotivasi oleh orang-orang hebat yang ada di dalam grup. Sehingga hobi yang kita miliki dapat tersalurkan dengan maksimal

Agar kita dapat menyalurkan hobi dengan maksimal tentu harus melakukan hal-hal berikut.

1.       Mulai menulis dari hal-hal yang paling kita senangi.

2.      Mulai menyisihkan waktu untuk menulis.

3.      Menulis saja tanpa memikirkan apa yang akan kita dapatkan nanti.

4.      Rajin membaca. Sehingga akan selalu memperoleh bahan dan ide untuk menulis. 

Agar hobi menulis dapat terus berkembang menurut beliau, kita harus tetap berada  dalam komunitas yang sesuai. Selain itu, kita pun harus fokus agar hobi itu membuahkan hasil yang maksimal. Sehingga sesuatu yang kita lakukan tidak akan membebani dan memberatkan.

Buah manis yang diperoleh Bu Rita tentunya melalui proses yang tidak mudah. Yakni membutuhkan kesabaran,  keuletan, dan konsisten dalam berkarya. Sehingga beliau kini sukses dengan hobi yang digelutinya. Semoga kita dapat mengikuti jejak beliau. Fokus dan konsisten menyalurkan hobi yang positif di platfom digital. Sehingga dapat berbagi manfaat, motivasi, dan inspirasi kepada orang lain. Aamiin.

 

Salam Literasi dari Way Kanan, Lampung!!

 

Selasa, 16 November 2021

MENJADI PEJUANG KEBENARAN DI TENGAH GEMPURAN HOAX

 


 Resume 6 GMLD: Mujiatun, S.Pd.

 




Jumat, 12 November 2021 pukul 16.00 WIB. Seperti biasa, saya nantikan waktu ini dengan penuh semangat. Karena hari ini merupakan pertemuan ke-6 kegiatan Guru Motivator Literasi Digital (GMLD). Meskipun hanya melalui zoom meeting tetapi tak menyurutkan sedikit pun gairah saya untuk mengikuti paparan materi yang akan disampaikan oleh narasumber.

Terlebih narasumber kali ini adalah Ms. Phia dengan materi pembahasan tentang "Menjadi Pejuang Kebenaran di Tengah Gempuran Hoaks". Materi ini benar-benar semakin menyulut semangat saya untuk mengikuti kegiatan hingga usai. Karena, bagi saya pokok bahasan ini sangat menarik dan sangat bermanfaat untuk menangkal berita dan informasi hoaks yang kian marak saat ini.

Kita harus berupaya menangkal berbagai berita atau informasi hoaks yang setiap hari membanjiri media sosial. Baik di FB, IG, Twitter, WA, atau di berbagai platform digital lainnya. Karena faktanya, berita hoaks sangatlah berbahaya bagi siapa saja yang tidak memiliki perisai untuk menangkalnya.

Oleh sebab itulah, Ms. Phia pada pertemuan kali ini membahas tentang cara menggempur berita atau informasi hoaks di era digital ini. Beliau fokus pada sudut pandang tentang Hoaks dan Fake News yang makin marak di dunia digital.

Hoaks menurut penjelasan Ms Phia berdasarkan Wikipedia adalah tipuan yang kadang-kadang digunakan untuk merujuk pada legenda dan desas desus urban. Maksudnya, berita atau tanyangan yang mengada-ada, dibuat seolah-olah benar-benar terjadi. Namun, sesungguhnya tidak dapat dibuktikan kebenarannya.

Beliau pun menjelaskan bahwa  Fake News adalah berita palsu yang bertujuan untuk meyakinkan pembaca dengan sudut pandang tertentu (ARTA EKONOMI.CO.ID). Maksudnya, pembaca digiring untuk memiliki persepsi yang membenarkan suatu berita yang tidak benar. Akan tetapi, disampaikan melalui situs resmi sehingga mau tidak mau pembaca akan membenarkan berita tersebut.

Faktanya, sudah banyak orang yang pernah mengalami langsung kejadian-kejadian tersebut. Baik yang percaya dengan hoaks ataupun terlena dengan fake news. Akan tetapi, masih banyak pula yang akhirnya menyadari akan hal itu. Sehingga dapat terhindar dari hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri, keluarga, dan orang lain.

Ms. Phia mengangkat tema dengan mengusung kata “pejuang” kebenaran untuk era digital ini tentu dengan maksud dan tujuan. Karena tidaklah mudah bagi kita untuk menepis semua itu jika kita tidak punya sikap berpikir positif terhadap apa pun.  Sikap ini sangat sulit dibangun karena banyaknya gempuran media yang menyoroti hal yang salah menjadi benar. Hal ini setiap hari dapat kita temui di dunia maya dan di media digital.

Lebih lanjut Ms Phia menjelaskan bahwa berpikir positif itu banyak sekali dampak positifnya bagi kita. Pertama, dapat menyehatkan jiwadan raga. Karena hati kita diajak untuk selalu berpikir hal-hal yang baik. Sehingga apa yang ada dalam pikiran kita maka itulah yang akan terjadi. Jika yang kita pikirkan ha-hal baik maka akan timbul hal baik. Dan jika buruk yang kita pikirkan maka akan timbul pula hal-hal yang buruk.

Kedua, menimbulkan rasa bahagia. Berpikir positif selalu melahirkan sesuatu yang membahagiakan karena tidak ada tekanan dari mana pun. Sehingga kehidupan kita pun akan terarah dan lebih fokus kepada hal-hal yang positif pula.

Berikut Ms. Phia memberikan 3 tips khusus agar kita dapat selalu berpikir positif.

     1.      Menghadapi Sesuatu dengan Sabar dan Senyum

Sikap sabar dalam menghadapi segala sesuatu akan membuat hati kita tenang. Hati yang tenang akan tercermin pada wajah yang berseri-seri dengan senyuman. Aura kesabaran dan ketenangan kita pun akan berdampak positif bagi orang-orang di sekitar. Mereka akan merasa tenang dan nyaman berada di dekat kita.

     2.      Melatih Diri untuk Mereframing

Maksudnya, kita membingkai ulang semua peristiwa dan mendapati bahwa kita adalah orang yang beruntung. Karena kita bukan termasuk orang yang mudah terpancing dengan hal-hal yang berbau hoaks bahkan fake news.

3.      Membangun Ketahanan Diri

Berikutnya yang harus kita lakukan adalah berani memulai untuk menjalin hubungan baik dengan siapa pun. Semakin mempererat hubungan dengan keluarga. Karena keluarga adalah orang pertama yang akan membantu kita jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Harus mau meninggalkan hal-hal yang sudah usang menuju perubahan yang lebih baik.

 

Berdasarkan paparan materi dari Ms. Phia pada pertemuan kali ini dapat saya simpulkan bahwa kita harus selalu berpikir positif dalam segala hal. Sehingga kita dapat memanfaatkan media digital dengan bijak. Yakni memanfaatkannya untuk berbagi informasi yang positif dan bermanfaat bagi orang lain. Sehingga apa pun yang kita posting akan menimbulkan hal positif pula. Baik untuk keluarga kita maupun untuk orang lain.

 

Salam Literasi dari Way Kanan, Lampung!!!

 

Senin, 15 November 2021

STRATEGI MENANGKAL HOAKS

 

  


Resume 5 GMLD: Mujiatun, S.Pd.


 

Rabu, 10 November 2021. Hari ini merupakan hari yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia. Yakni, diperingati sebagai HARI PAHLAWAN. Sehingga dari Sabang hingga Papua masyarakat memperingatinya dengan mengibarkan Sang Merah Putih di depan rumah masing-masing. Demikian halnya pada perkantoran di seluruh pelosok Tanah Air. Selain itu, bangsa Indonesia pun mengheningkan cipta beberapa saat untuk mengenang dan mendoakan para pahlawan yang telah gugur memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Secara pribadi, tanggal 10 November pun sangat istimewa bagi saya. Karena pada tanggal itu, tepatnya 49 tahun lalu merupakan hari kelahiran saya. Oleh sebab itu, saya merasa bahagia dan sangat bersyukur kepada Allah masih diberi kesehatan di usia yang hampir setengah abad ini. Sebagai ungkapan rasa syukur, saya ingin memanfaatkan anugerah Allah yang tiada tara dengan selalu belajar dan berkarya. Salah satunya yakni dengan mengikuti pelatihan di GMLD ini.

Melalui pelatihan-pelatihan seperti inilah, pada hari ini buku solo ke-4 karya saya terbit. Sama seperti ketiga buku solo yang lalu, buku ke-4 yang berjudul “TEKNIS MENULIS BAGI PEMULA” pun diterbitkan secara gratis oleh Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD), Jakarta. Buku pertama berjudul “SENANDUNG CITA” sebuah antologi cerpen. Buku ke-2 bertitel “MENGUKIR PRESTASI DI TENGAH PANDEMI” sebuah antologi kisah inspiratif. Buku ke-3 bertajuk “MAWAR MERAH UNTUK IBU” sebuah antologi pantun.

Keempat buku solo tersebut terbit lantaran mengikuti pelatihan yang diinisiasi oleh Bapak Wijaya Kusumah, M.Pd. yang lebih akrab disapa Omjay. Bermula dari Pelatihan Menulis bersama PGRI gelombang 17 itulah saya secara rutin mengasah keterampilan menulis. Sehingga saya pun semakin percaya diri untuk mengungkapkan segala pikiran dan perasaan dalam bentuk karya tulis. Wal hasil, upaya saya pun kini tak sia-sia.

Dari pengalaman itulah, saya semakin semangat mengasah keterampilan menulis melalui pelatihan-pelatihan seperti GMLD ini. Terlebih hari ini, materi yang akan disampaikan oleh Ibu Heni Mulyati, M.Pd. membuat saya penasaran. Yakni materi tentang “STRATEGI MENANGKAL HOAKS”. Tentu saya tak mau melewatkan begitu saja paparan materi yang sangat menarik ini.

Bu Heni mengawali paparan materinya dengan membahas tentang informasi. Kita semua sangat membutuhkan informasi tentang berbagai hal. Informasi yang kita peroleh membuat kita mengetahui perkembangan dunia. Jangan sampai kita kurang update karena kurang informasi tentang perkembangan zaman.

Oleh sebab itu, kita haruslah berusaha untuk selalu memperoleh informasi terkini tentang apa pun. Terlebih di era yang serba digital seperti saat ini, memperoleh informasi bukanlah hal yang sulit. Cukup dengan satu kata kunci di pencarian google, IG, FB, dan lain-lain. Maka akan muncul banyak berita, artikel, dan apa pun sesuai dengan informasi yang kita cari.

Akan tetapi, kita harus jeli dan selektif terhadap semua informasi yang kita peroleh. Karena tidak seluruh informasi yang ada itu benar dan bisa dipercaya. Memang banyak berita atau informasi yang benar tetapi banyak pula berita hoaks atau informasi bohong. Oleh sebab itu, pada pertemua ke-5 ini Bu Heni akan membahasnya dengan tuntas.

1.   Pengertian Hoaks

Hoaks atau berita bohong adalah informasi yang tidak benar tetapi dibuat seolah-olah benar adanya. Menurut penjelasan Bu Heni, di era digital ini, informasi hoaks bisa beredar di berbagai sosial media. Terdapat 2.298 hoaks pada tahun 2020 yang ditemukan di media sosial seperti FB, WA, dan Twitter. Data ini berdasarkan penelitian dari Litbang Mofindo.

2.      Cara Mengenali Berita Hoaks

Kita sering bingung dengan banyaknya berita dan informasi yang kita baca. Apakah informasi tersebut benar ataukah hoaks. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengenal ciri-ciri berita hoaks. Menurut penjelasan Bu Heni, berita hoaks memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

a.       Sumber informasi tidak jelas

b.      Biasanya membangkitkan emosi

c.       Kelihatan ilmiah tetapi salah

d.      Isinya menyembunyikan fakta

e.       Minta diviralkan

 

3.      Cara Membentengi Diri dari Hoaks 

Berita Hoaks atau informasi yang tidak benar dapat menimbulkan terjadinya perpecahan dan saling curiga di antara kawan atau rekan kerja. Karena informasi hoaks tersebut sering membuat  seseorang berpendapat pro dan kontra. Sehingga seseorang terjebak dalam kebingungan akan kebenaran berita. Hal ini mengakibatkan seseorang merasa tidak aman dan nyaman. Bahkan dapat berujung kematian gara-gara informasi yang salah atau berita hoaks. Oleh sebab itu, Bu Heni mengimbau agar kita membentengi diri dengan hal-hal berikut.

a.       Memiliki kemampuan memeriksa fakta.

b.     Bersikap skeptis agar dapat membedakan antara berita yang benar dan yang hoaks. Sebab tidak semua berita atau informasi yang viral itu benar adanya. Oleh sebab itu, kita harus pandai memilah dan memilih informasi yang jelas kebenarannya. 

c.       Harus peka dengan beberapa situasi di media sosial seperti:

(1) Era Post Truth, yakni kebenaran fakta kurang diterima dikarenakan emosi dan keyakinan pribada yang lebih mendominasi.

(2) Matinya kepakaran, yaitu informasi dijadikan rujukan tanpa melihat kompetensi penulis.

(3)Filter Bubble dan echo chamber, hal ini yang membuat kita berada di ruang digital dalam lingkaran yang sama.

Berdasarkan paparan materi Bu Heni pada pertemuan ke-5 Guru Motivator Litersi Digital (GMLD) ini saya semakin sadar akan bahayanya berita hoaks. Oleh sebab itu, kita benar-benar harus waspada terhadap berita atau informasi-informasi yang membanjiri media sosial setiap hari. Kita pun harus cerdas dan bijak dalam menerima, menyikapi, dan memercayai berita atau pun informasi. Sehingga kita tidak akan terjebak dalam kebingungan yang pada akhirnya dapat merugikan diri sendiri atau orang lain.


Salam Literasi dari Way Kanan, Lampung!!!

 

 


Rabu, 10 November 2021

MENCEGAH CYBER BULLYING

 


Resume 4 GMLD: Mujiatun, S.Pd.

 


 

 

Seperti biasa, setiap hari Senin pukul 16.00 WIB sd selesai selalu saya nantikan. Karena pada hari ini merupakan jadwal pelatihan dalam Grup WA Guru Motivator Literasi Digital (GMLD) Indonesia 2021. Seperti biasa pula, pelatihan ini selalu menghadirkan narasumber yang luar biasa menurut saya. Selain prestasi dan karyanya di dunia litersi sudah tak terhitung banyaknya, mereka pun merupakan motivator dan inspirator yang luar biasa di negeri ini.

Salah satu di antara mereka adalah Bapak Wijaya Kusumah, M.Pd. yang lebih akrab disapa dengan Omjay. Beliau kali ini hadir kembali sebagai narasumber pada pertemuan ke-4 pelatihan GMLD 2021. Pada kesempatan ini, 8 November 2021 Omjay membahas materi tentang BULLYING yaitu dengan judul “Yuk Cegah Cyber Bullying”. Tema ini tentu sangatlah menarik bagi saya, terlebih sebagai orang tua sekaligus seorang guru. Omjay memulai paparan materinya dengan membahas pengertian Cyber bullying.

 

 1.    Pengertian Cyber Bullying

Cyber Bullying merupakan perilaku anti-sosial yang melecehkan ataupun merendahkan seseorang. Hal ini sering terjadi pada anak-anak dan remaja yang dilakukan secara online atau di dunia maya.

 

Cyber bullying ini justru lebih parah dibandingkann dengan tindakan bullying di dunia nyata secara langsung. Karena tindakan bully di dunia nyata biasanya yang tahu hanyalah  orang-orang yang melihat secara langsung. Akan tetapi, pada cyber bully, semua orang yang online dapat menyaksikannya.

Jika tidak ada tindakan segera, hal tersebut akan berakibat fatal bagi perkembangan mental anak-anak dan remaja. Dapat dibayangkan jika anak-anak atau remaja di-bully di media sosial. Yakni dengan kata-kata kasar atau tak senonoh. Tentu semua temannya bahkan mungkin keluarganya akan membaca.

Bullying adalah penindasan yang dilakukan seseorang tanpa alasan karena merasa lebih memiliki power dibandingkan korban yang ingin di-bully. Power ini didapatkan dari rasa senioritas, kepemilikan, kedudukan, dan kepintaran. Hal ini dilakukan oleh seseorang untuk menutupi kekurangannya.

Oleh sebab itu, tindakan bullying ini harus segera diatasi dan diantisipasi. Sebab korban akan mengalami trauma psikologis karena pelaku akan melakukan berulang-ulang. Selain itu, biasanya  pelaku akan menghasut orang lain untuk mengikutinya.

 

2. Cara Mencegah dan Menghentikan Cyber Bullying

     Berikut saran Omjay upaya yang harus dilakukan untuk mencegah tindakan cyber bullying.

a.  Jangan merespons. Para pelaku bullying selalu menunggu reaksi korban. Untuk itu jangan terpancing untuk merespon aksi pelaku agar mereka tidak merasa diperhatikan.

b.     Jangan membalas aksi pelaku. Membalas apa yang dilakukan pelaku cyber bullying akan membuat kita ikut menjadi pelaku.

c. Simpan semua bukti. Karena aksi ini terjadi di media digital, korban akan lebih mudah mengcapture, lalu menyimpan pesan, gambar atau materi pengganggu lainnya. Selanjutnya, dapat dijadikan sebagai barang bukti saat melapor kepada pihak yang berwenang.

d.     Segera blokir aksi pelaku. Jika materi-materi pengganggu muncul dalam bentuk komentar, pesan instan, gunakan tool preferences/privasi untuk memblokir pelaku. Jika terjadi saat chatting, segera tinggalkan ruang chat.

e.  Selalu berperilaku sopan di dunia maya. Perilaku buruk seperti membicarakan orang lain, bergosip, dan memfitnah dapat meningkatkan risiko seseorang menjadi korban cyber bullying

f.     Jika sudah meresahkan. laporkan kepada pihak yang dipercaya dan berwenang. Jika anak-anak yang menjadi korban, mereka harus melapor kepada orangtua, guru atau tenaga konseling di sekolah. Selain mengamankan korban, tindakan ini akan membantu memperbaiki sikap mental pelaku.

 


 

3. Penyebab Cyber Bullying

a.   Posting terlalu sering atau terlalu banyak. Posting terlalu sering dan banyak bisa mengganggu orang lain. Oleh karena itu, posting terlalu sering dan banyak dapat memancing adanya cyber bullying.

b.     Konten postingan yang aneh. Apapun yang diunggah ke sosial media, pasti menimbulkan pro dan kontra. Terlebih ketika posting sesuatu yang dianggap aneh dan mengundang bully.  Oleh krena itu, sebagai pengguna media sosial sebaiknya tidak mengunggah konten yang dapat mengganggu ketenangan orang lain.

c.     Pintar-pintar memilih teman di sosial media. Akun media sosial tidak harus selalu terbuka untuk semua orang. Semakin banyaknya teman di media sosial, maka akan semakin banyak komentar yang datang.

d.      Sembarang bercerita di sosial media. Tidak perlu menceritakan hal-hal yang pribadi dan terlalu prinsip di sosial media.

 

4.    Cara Mencegah Cyber Bullying pada Anak

a.       Edukasi anak. Orang tua dan guru harus memberikan edukasi menggunakan jejaring online yang aman. Edukasi menjadi langkah paling dasar dalam mencegah cyber bullying. Dalam kondisi ini peran orang tua dan guru sangat dibutuhkan. Karena keluarga adalah tempat pertama untuk memperoleh pendidikan bagi seorang anak.

b.      Ajari Anak cara menghadapi perundungan. Orang tua dan guru harus mengajari anak cara menghadapi cyber bullying. Agar mereka dapat mengantisipasi akan terjadinya tindak bullying baik secara langsung di dunia nyata maupun secara online.

c.       Bimbing anak untuk atur privasi, khususnya data pribadi. Orang tua dan guru sebaiknya memberikan bimbingan kepada anak-anak untuk mengatur privasi di media sosial. Data pribadi anak penting untuk dirahasiakan supaya mereka tidak menjadi korban kejahatan dunia maya.

Upaya yang tidak kalah penting adalah edukasi tentang postingan. Berikan pemahaman bahwa sesuatu yang sudah diposting tidak akan hilang. Oleh sebab itu, anak-anak harus selektif dalam membuat postingan.

Wabah Covid-19 yang melanda dunia, membuat orang semakin akrab dengan dunia maya. Sekolah, bekerja, berinteraksi dengan teman, semuanya dilakukan secara online. Selain itu, untuk menghilangkan rasa bosan, sebagian besar juga memilih bermain media sosial. Fakta ini tentu saja sangat memungkinkan terjadinya tindak cyber bulying semakin meningkat.

Oleh sebab itu, kita perlu segera melakukan upaya-upaya sebagai pencegahan terjadinya peningkatan tindak cyber bullying. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan fitur-fitur yang ada pada media sosial. Saat ini sudah banyak medsos yang memiliki fitur untuk melindungi penggunanya dari cyber bullying.

Kementerian Komunikasi dan Informatika RI (Kemkominfo RI) menyelenggarakan 1.251 kegiatan Literasi Digital. Kegiatan tersebut akan berlangsung mulai 6 Mei sampai dengan 6 Desember 2021. Yakni di 14 Kabupaten/Kota di Jawa Timur. Kegiatan ini membahas empat pilar utama Literasi Digital; Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills). Salah satu fokusnya adalah mengkampanyekan gerakan anti cyber bullying.

Berdasarkan penjelasan Omjay, Kegiatan Literasi Digital ini bertujuan untuk mendukung percepatan transformasi digital. Selain itu, juga untuk meningkatkan kapasitas, awareness, dan diseminasi pemanfaatan teknologi digital. Sehingga masyarakat dapat memanfaatkan internet dengan benar dan bertanggung jawab.

Dalam hal ini, literasi digital menjadi salah satu faktor penting yang menentukan kemajuan suatu bangsa. Karena literasi dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman akan potensi besar yang dimiliki Indonesia. Sehingga masyarakat dapat memanfaatkan berbagai fasilitas dan fitur teknologi digital yang tersedia untuk menunjang bakat, ekonomi, dan pekerjaannya.  

Pada akhir paparan materinya, Omjay berharap kepada kita sebagai guru dan orang tua agar selalu dapat mendampingi anak-anak dalam menggunakan media sosial.  Yakni dengan cara meningkatkan pengetahuan tentang literasi digital dan ikut serta dalam mengampanyekan gerakan anti cyber bullying. Dengan demikian, anak-anak dan remaja akan terhindar dari tindak bullying dan semakin bijak dalam bermedia digital.

Salam Literasi dari Way Kanan, Lampung.

RANGKUMAN MATERI BAHASA INDONESIA KELAS 8 SMP KURIKULUM MERDEKA BAB 1 TEKS LAPORAN HASIL OBSERVASI

  Rangkuman materi ini dibuat dengan tujuan untuk mempermudah peserta didik dalam memahami materi pelajaran BAB 1 TEKS LAPORAN HASIL OBSERVA...